1. Pertanyaan pertama, adalah dari seorang mantan pelacur yang menjadi guru TPA dan hendak menunaikan ibadah haji. Dia bertanya, "Apakah aku ini pantas menjadi guru TPA bagi anak-anak? Bagaimana jika mereka tahu? Apakah aku ini pantas menginjakkan kaki ke tanah suci? Apakah Allah akan menerimaku?" . Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah satu, kita tidak bisa lari dari masalalu, buat apa kita lari? melawan? melupakan masa lalu? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Cara terbaik untuk menghadapi masalalu adalah dengan dihadapi, peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidup kita.
Mengenai penilaian orang lain, kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Kalaupun orang lain menganggap kita apa pun itu, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita sebaik itu atau tidak.
2. Pertanyaan kedua adalah dari seorang kakek
yang ditinggal mati oleh istrinya. Pertanyaannya ialah “Kenapa mbah putri harus
meninggal sekarang? Kenapa tidak besok, atau lusa?” . Jawabannya adalah yang
tahu alasannya hanya Allah, yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut
Allah. Kematian mbah putri adalah takdir Allah yang terbaik. Biarkan waktu yang
menghapus kesedihan itu, dan coba lihatlah kejadian tersebut dengan kaca mata
yang berbeda atau sisi yang berbeda.
3. Pertanyaan ketiga adalah dari seorang anak
yang sangat membenci ayah kandungnya sendiri, karena dari waktu keci dia
melihat ayahnya memukuli, mencaci maki, menendang ibunya dan kasar terhadap
tetangga. Dia bertanya “Kenapa Ibu masih bertahan dan bersabar dengan sikap dan
sifat Ayah? Kenapa ibu tidak pergi saja? Apakah ibu tidak kesakitan? ”
Jawabannya adalah ibu tersebut setia, karena sejak awal dia sudah memutuskan
untuk menikah dengan sang ayah jadi apapun yang terjadi dia adalah istri dari
suaminya.
4. Pertanyaan keempat adalah dari seorang pemuda
yang kecewa, sakit hati setelah menerima surat dari seorang wanita yang dia
cintai bahwa wanita tersebut sudah di jodohkan oleh ayahnya. Pemuda tersebut
sangat kesal, menerima surat tersebut hatinya hancur. Dia bertanya “Apakah cinta
sejati itu? Apakah besok atau lusa aku akan berjodoh wanita itu? Apakah aku
masih memiliki kesempatan?” Jawabannya adalah cinta sejati adalah melepaskan.
Jikalau memang berjodoh pasti suatu saat nanti bisa dipertemukan kembali.
Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki maka sebesar
apapun wujud kehilangan kau akan siap menghadapinya.
5. Pertanyaan kelima adalah dari seorang ulama besar yang tidak yakin akan dirinya "Apakah aku sehebat apa yang dikatakan oleh orang-orang? apakah aku benar-benar baik?" Jawabannya adalah di saat dia melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang banyak seperti dirinya akan tetapi pemuda itu mampu menunjukan kepada semua orang tentang keberaniannya
Nah, itulah sekilas mengenai isi Novel Rindu Tere Liye, karya-karya Tere Liye bagus-bagus, cerita yang di ambil sesuai pada realitas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar