Episode 8: ‘Kau, Aku & Kota Kita’
Gang Di Tepian Kapuas
Urusan ludah-meludah ini apalagi kalau bukan sarang burung walet. Cobalah panjat menara relay stasiun TVRI Pontianak, tengoklah ke seantero delapan penjuru mata angin, bangunan apa yang paling banyak terdapat di kota ini? Apalagi kalau bukan hotel mewah burung walet, jumlahnya beda-beda tipis dengan masjid ditambah kelenteng. Bentuk bangunan sarang walet menyerupai kotak, tinggi, tanpa cat, hanya warna semen mengelupas, dibuat permanen dari beton, dan konstruksi serta material terbaik—peduli amat kalau pemilik sarang burung walet itu sendiri hanya punya rumah yang bersahaja, kamar terbatas dan penghuninya terpaksa berhimpitan.
Siapapun dengan cepat akan mengenali bangunan sarang burung walet, karena selain mencolok, buat yang tidak pernah tahu, pastilah tidak habis pikir bertanya-tanya bangunan aneh apa yang tinggi dan kokoh tanpa jendela itu, seperti penghuninya benci matahari. Setiap senja datang, ribuan burung walet terbang di atas kota, melengking berisik. Kalau sedang suntuk, cobalah duduk di ujung dermaga kayu tepian Kapuas, lantas lamat-lamat menatap formasi burung walet hingga matahari terbenam, itu efektif menghilangkan beban pikiran. Beda kasus jika rumah kalian berdekatan dengan bangunan sarang walet yang padat burung, polusi suara yang ditimbulkan bisa sebaliknya, menambah stress.
“Selera makan manusia itu aneh, Borno.” Pemilik 37 gedung sarang walet di Pontianak, kenalan pejabat Syahbandar, dengan senang hati menjelaskan duduk perkara, “Ada yang suka makan ular, kodok, kepala kambing, monyet, atau bulu babi, ternyata ada juga yang suka makan ludah. Haha, ludah, kau bayangkan saja. Menjilat ludah baik secara harfiah maupun kiasan saja menjijikkan bagi sebagian orang, ini justeru sungguhan makan ludah.” Pria keturunan separuh baya itu tergelak.
Aku bergidik, bulu kudukku mulai berdiri.
“Kau pernah menikmati semangkok sup sarang burung walet?”
Aku menggeleng, semakin jerih—aku punya pengalaman buruk dengan segala jenis burung, nantilah kapan-kapan kuceritakan kenapa—sekarang lawan bicaraku malah asyik membahasnya.
“Tentu tidak pernah.” Pemilik 37 rumah sarang burung walet itu kembali tergelak, “Kalau kau saja pernah makan sup sarang burung walet, makanan itu berarti tidak istimewa, sama kastanya dengan pisang pontianak kalau begitu. Kau tahu, satu ons sarang burung walet terbaik, harganya tak kurang satu juta, nah, setelah diberi bawang putih dari dataran Tibet, potongan kentang dari Mongolia, dikucuri cuka pedalaman China, jadilah sup nikmat tiada tara, harganya bisa dua kali lipat lagi. Kau bisa membeli beratus piring pisang pontianak dengan semangkok sup Yan Wo.”
Aku hanya diam, menyeka dahi. Kupikir apalah pekerjaan terkait dengan ludah-meludah seperti yang dikatakan pejabat syahbandar dua hari lalu, bersemangat datang ke alamat yang diberikan, ternyata tentang b-u-r-u-n-g, mahkluk yang paling kuhindari selama ini—sama dengan kalian jerih pada tikus, kecoa atau laba-laba. Sialnya, pemilik 37 sarang walet itu malah menganggap ekspresi wajahku cerminan rasa ingin tahu atau terpesona, “Ini bisnis tujuh generasi, Borno. Aku cicit-cicitnya pemilik rumah sarang burung walet pertama kali di Pontianak. Jaman dulu, mereka harus mencarinya di goa-goa pedalaman sana, menantang mati dengan julur-julur bambu seadanya saat memanen sarang burung di kegelapan dan ketinggian belasan meter. Saat pertama kali kakek-kakekku membangun rumah burung walet, semua orang mentertawakan, bagaimanalah burung itu akan tertarik tinggal di rumah? Memangnya dia kucing? Atau kambing atau ayam? Berkembang-biak lantas mau membuat sarang dari ludah kentalnya. Jauh panggang dari api.”
“Tetapi kakek-kakekku tidak menyerah, dia menemukan trik dan rahasia cairan perangsang, keturunan berikutnya membuat rekaman suara walet untuk mengundang burung itu bersarang, hingga sekarang, 37 sarang yang kumiliki dikelola secara modern, scientific, pendekatan ilmiah, dan tentu saja produktif. Kami menjaga suhu dan kelembaban, ada alat monitor elektronik. Tak kurang tiga ton setiap bulan panennya, kau hitung sendiri berapa omzetnya.”
Aku meneguk ludah, “Re-ka-man su-a-ra?” Demi sopan-santun setelah terdiam satu menit, dengan wajah sedikit pias, memaksakan bertanya.
“Iya, sekarang malah ada keping CD pemanggil walet. Kau pasang audio system di dalam gedungnya, kau putar keping CD itu, macam memutar orkes dangdut di kampung, berbondong-bondong burung walet datang. Sarang mereka bergelantungan di langit-langit gedung, besar-kecil, betina-pejantan, beranak-pinak, banyak sekali, coba kau bayangkan.”
Aku meneguk ludah, tidak kubayangkan saja aku sudah mau mual.
“Mau kuperlihatkan fotonya?” Dan tanpa menunggu persetujuanku, pemilik 37 sarang burung walet itu beranjak meraih album foto.
Jemariku gemetar—sama saat kalian gemetar dikepung dua tikus, bedanya kalian bisa loncat ke atas kursi, meja apa saja, aku tentulah tidak bisa seketika lari dari ruangan itu. Demi sopan-santun meremas paha, membujuk diri meneguhkan hati.
“Ini foto sarangnya, banyak sekali bukan? Ini foto induk burung walet berkembang-biak. Ini telurnya. Ini proses panen sarangnya, inilah pekerjaan kau nanti, tenang, Borno, kau akan mengenakan masker, sarung tangan, semua aman, tidak ada itu flu burung, tetapi ya itu, tentu saja di sekitar kau berisik sekali, ribuan burung walet melenguh, mengerumuni—“
Kalimat riang pemilik 37 sarang burung walet itu terputus, aku sudah muntah persis mengenai album foto yang terbentang lebar.
***
Tidak. Aku tidak akan bekerja di bangunan sarang burung walet. Sebaik apapun pemiliknya, sebanyak apapun gajinya, sesederhana apapun pekerjaanku, ayolah, apanya yang sederhana kalau aku harus berhadapan dengan ribuan burung dalam ruangan tertutup dan gelap? Pejabat syahbandar tertawa lebar, manggut-manggut saat aku datang lagi, daripada aku lagi-lagi mengecewakan dia, kuputuskan untuk berusaha sendiri mencari pekerjaan berikutnya.
Terbetik kabar, Ijong, petugas SPBU hendak cuti panjang, pulang ke Jawa menjenguk embok-nya, dengan senang hati aku menjadi pemain pengganti, bekerja di sana selama dua bulan. Itu bukan sembarang pom bensin seperti yang kalian lihat di jalan protokoler Pontianak atau lintas trans Kalimantan, itu SPBU terapung di tepian Kapuas. Perahu tempel, kapal nelayan, boat, drum penjual minyak ke pedalaman Kapuas, semua yang mengapung merapat ke bantalan karet SPBU, lumayan efek goyangnya, kalau kalian bukan anak sungai, dijamin muntah—sudah kaki limbung, bau pengap solar pula. Dari percakapan dengan pengemudi perahu, sambil menunggu meteran menunjuk angka pol, aku jadi tahu banyak soal mesin kapal, mana yang boros, mana yang suka ngadat, mana yang bandel, mana yang bagus (tapi mahal). Percakapan itu tidak selalu mulus, dua kali aku justeru bertengkar dengan pengemudi perahu yang santai merokok. “Kau tahu taipan paling kaya di negeri ini adalah pengusaha rokok. Dia dapat kayanya, kau dapat penyakitnya, dan pom bensin ini bisa kena bala-nya, meledak.” Aku berteriak marah, entah mengerti atau tidak awak perahu nelayan di hadapanku.
Saat aku mulai merasa nyaman duduk di atas kursi plastik (karena ternyata Ijong sudah tiga bulan tidak pulang-pulang), menunggu perahu yang membeli solar, menatap lalu-lalang kehidupan di sungai Kapuas, menatap burung walet terbang, ujung-ujung bangunan aneh berbentuk kotak itu, indahnya remang cahaya senja menerpa permukaan Kapuas, Ijong tiba-tiba pulang. Sumringah dia bilang mbok-nya sehat wal’afiat. Aku tahu diri, meski pemilik SPBU ingin aku saja yang bekerja di sana—Ijong ditolak kembali bekerja karena tidak pernah kasih kabar—aku menyarankan agar Ijong tetap diterima. Aku tidak akan mengkhianati teman.
Pengangguran lagi satu bulan, hingga Mang Jaya, sopir oplet berwarna oranye, jurusan kota-tugu khatulistiwa, menawariku menjadi kondektur. “Apa perlunya oplet punya kondektur?” Aku menyeringai, ragu-ragu. “Setidaknya kau bantu berteriak, kosong, kosong.” Mang Jaya, tetangga di ujung gang tertawa. “Ayolah, kau bisa sekalian kuajari nyetir mobil. Itu upahnya.” Benar juga, aku mengangguk. Maka jadilah aku korban kelicikan Mang Jaya. Tiga bulan ikut dia narik, tiga bulan juga kemajuan belajar nyetirku jalan di tempat, padahal selain itu, Mang Jaya tidak sepeser memberiku tips dari hasil nariknya. “Sabar, Borno, hari ini kita belajar men-starter mobil dulu.” Atau “Tenang, Borno, sore ini kau latihan saja dulu menginjak kopling. Ya, diinjak, dilepaskan, diinjak, dilepaskan. Rasakan sensasinya.” Tidak pernah aku sungguh-sungguh diberikan kesempatan menjalankan opletnya. “Sebentar, sebentar, hari ini cukup satu meter saja dulu.” Demikian dia melarang. Aku mendengus jengkel. “Lah? Aku saja dulu butuh setahun baru bisa nyetir, kau ini kemajuannya sudah luar-biasa. Sabarlah.” Demikian dia membujuk. Aku memutuskan berhenti.
Enam bulan terakhir dihabiskan kerja serabutan. Membantu Cik Tulani di warungnya, menunggui toko kelontong Koh Acung, ikut melaut mencari ikan dan sotong, disuruh-suruh tetangga memperbaiki genteng, toilet mampet, jendela lepas, bahkan mencari kucing hilang.
“Itu setidaknya membuktikan satu hal, Borno.” Pak Tua menghiburku, “Sepanjang kau mau bekerja apa saja, maka kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, malu, dipikirnya tidak pantas dengan ijasah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.”
Aku tidak keberatan dengan jenis pekerjaan remah-remah itu—daripada Ibu terus mengomel melihatku bengong di rumah. Hanya saja, dua tahun lulus SMA tanpa juntrungan, apalagi rencana hendak kuliah lagi sambil bekerja, rasa-rasanya sudah saatnya aku melakukan sesuatu sedikit serius. Enam bulan terakhir, setelah berganti-ganti banyak jenis pekerjaan, tanpa sepengetahuanku, Pak Tua, Cik Tulani dan Koh Acong mengunjungi Ibu di suatu malam, membicarakan sesuatu.
Hasil pembicaraan itulah yang membuatku berangkat pagi-pagi dari rumah hari ini. Tanpa seragam, tidak perlu mandi, diolok-olok tetangga sepanjang gang tepian sungai Kapuas. Inilah pekerjaan baruku, yang ternyata berkelindan dengan banyak hal, termasuk salah-satunya: bertemu dengan kisah cinta sejati. Salah-satu pertanyaan terumit selain berapa lama waktu yang diperlukan kotoran berhiliran dari hulu kapuas hingga muaranya di Laut China Selatan. Inilah pekerjaan baruku, dan Ibu, aku akan bekerja sungguh-sungguh.
***
Jumat, 20 November 2015
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 7: ‘Kau, Aku & Kota Kita’
Gang Di Tepian Kapuas
Bang Togar memberikan ultimatum, satu bulan. Jika aku tetap bekerja di dermaga feri, maka aku akan dikucilkan dalam segenap aktivitas penduduk gang sempit tepian Kapuas, mulai dari main kartu di balai-balai bambu hingga kepanitiaan kalau ada tetangga yang menikah. Separuh lebih penghuni gang menganggap itu berlebihan, tetapi dengan gayanya yang menyebalkan dan sok-kuasa, boleh jadi dia bisa meyakinkan kalau apa yang kulakukan memang kejahatan besar. Kenapa harus satu bulan? “Hah, itu berarti si Borno sudah terima gajian dari bos pelampung. Aku tidak mau lagi lihat tampang orang yang sudah makan uang musuh besar kita. Bukan cuma otaknya, tubuhnya sudah tercemar.” Bang Togar menjawab tegas, berusaha ber-logika di atas logika.
Aku juga sudah bertekad bulat tidak akan berhenti, setelah begitu banyak provokasi dan perlakuan tidak adil, maka hanya ada satu kata dalam benakku: lawan. Dan Andi, sohib dekat yang dulu jago pelajaran kewarganegaraan, berapi-api membelaku, “Lihat saja nanti pas satu bulan, seberani apa dia melarang-larang orang merdeka berlalu-lalang. Itu pelanggaran UUD ‘45. Harusnya dia urus saja dulu keluarga sendiri. Lihat, bukankah dia sudah bertahun-tahun pisah rumah dengan istrinya.” Andi balas mengungkit-ungkit ranah personal Bang Togar. Situasi semakin dekat tenggat waktu kian runcing, sudah macam mau Perang Teluk, ketika Irak menginvansi Kuwait.
Untunglah, ternyata pertikaian besar itu tidak perlu terjadi.
Minggu ketiga aku bekerja di dermaga feri, pagi Senin yang cerah, dermaga telah lepas dibersihkan, sejauh mata memandang terlihat kinclong, aku dan dua rekan penjaga palang pintu sudah bersiap, dan kapal feri sudah sejak tadi stand-by menunggu penumpang pertama, bergemuruh lembut mesinnya. Kehidupan kota Pontianak mulai menggeliat.
“Hei, orang baru, tadinya kupikir kau staf khusus dari Jakarta.” Salah-satu rekan kerja berbisik, mulai menyobek tiket penumpang.
Aku menggeleng.
“Tadinya juga kusangka kau staf khusus pimpinan dermaga ini, langsung ditempatkan di palang masuk.” Rekan itu menyeringai ganjil.
Aku menggeleng, tanganku cekatan memeriksa karcis, penumpang seperti air bah berkerumun tak rapi di depan palang pintu. Berebut menjulurkan tiket masing-masing. Sebenarnya, dua minggu bekerja di sana, aku tidak terlalu akrab dengan dua rekan lain yang berjaga. Satu, karena sibuk memelototi penumpang; dua, rasa-rasanya mereka berdua sejak awal selalu menjaga jarak, menatapku menyelidik, berbisik-bisik entahlah.
“Tadinya kukira kau ditempatkan di sini untuk tugas khusus.” Tertawa kecil.
“Tugas khusus?” Aku menyeringai tidak mengerti, mempersilahkan dua penumpang melintas palang pintu, berlari-lari kecil takut tertinggal jadwal feri satu menit lagi.
“Yeah, begitulah. Mata-mata, Kawan.” Tertawa lagi.
Dan diantara kesibukan melayani para komuter penyeberang Kapuas, setelah dua minggu bekerja di sana, aku baru paham ada sesuatu di palang pintu, ada udang dibalik batu. Aku pikir, pekerjaan ini akan lurus-lurus saja. Berdiri, periksa karcis, selesai.
“Tiketnya?” Aku bertanya pada penumpang yang hendak masuk.
“Biarkan saja lewat.” Salah-satu rekan mengedipkan mata.
Biarkan lewat? Dahiku terlipat, menunjuk, satu-dua-enam penumpang yang melenggang melewati pintu masuk tanpa tiket. Rekan itu mengangguk penuh maksud. Aku menelan ludah.
“Kau tahu, Kawan. Mereka dua minggu terakhir terpaksa membeli tiket. Takut kau seorang mata-mata. Ternyata bukan. Semua bisa kembali normal.” Rekan itu menepuk bahuku, saat istirahat makan siang di salah-satu restoran dekat dermaga feri, menunya istimewa, gulai kambing plus jus buah.
Dua rekan kerjaku itu santai menjelaskan situasi. Setiap hari, sambil mencoret-coret di atas tisue meja makan, ada belasan ribu penumpang komuter penyeberang Kapuas, belum terhitung sepeda motor. “Kita hanya mengambil sedikit, Kawan. Paling satu-dua, mereka kebetulan tetangga, kenalan, kerabat, teman. Jadi ya begitulah, tidak mengapa tak bayar tiket.”
Aku merutuk dalam hati, satu-dua? Tadi pagi jumlahnya puluhan, kecuali dua orang ini punya kerabat multi ras, kolega begitu luas, baru dapat menjelaskan kebaikan hati ini.
“Lagipula kasihan, mereka harus membayar tiket pelampung setiap hari, mahal, gaji mereka kecil, kita bantu sedikit, dan mereka bantu kita dengan hanya menyetor separuh harga tiket setiap akhir bulan.”
Rahangku mengeras, penjelasan mereka sudah cukup.
Feri Kapuas hanya butuh lima belas menit (termasuk proses merapat), karena terlalu singkat, tidak ada pemeriksaan karcis di atas pelampung. Setelah membeli tiket di loket, satu-satunya yang memastikan tidak ada penumpang ilegal adalah petugas palang pintu. Tidak ada cross-check berikutnya.
“Kau akan dapat bagian, tenang saja.” Bodohnya, rekan kerja di depanku mengartikan ekspresi wajah merahku demikian, “Tapi ya itu, karena kau orang baru, tidak langsung kita bagi tiga ya. Cincai, kan?” Tertawa lepas, seperti kata mufakat sudah diambil.
***
“Kau tahu, Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau karet, kotor berlicak, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi darah dan daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengkilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi darah-daging keburukan dan keburukan.” Ibu menatap prihatin, setelah terdiam beberapa saat lepas aku bercerita. Dari bingkai jendela rumah kayu sempit kami, kota Pontianak terlihat syahdu dibungkus malam.
Aku diam, memainkan jari. Ibu (selalu) benar.
“Kau dijanjikan dapat berapa?” Pak Tua, beberapa hari kemudian, saat aku sengaja bertandang ke rumahnya, bertanya.
Aku menyebut angka. Itu dua kali gaji bulananku, amat menggoda bagi yang tidak berpikir panjang.
“Ah, kecil itu.” Pak Tua tertawa, ringan melambaikan tangan, “Aku kenal pemilik kebun kelapa sawit di Sabah. Dia bisa dapat sejumlah uang yang kau sebut setiap detik.”
Aku menatap Pak Tua tidak mengerti.
“Beginilah, Borno. Mari kita berandai-andai, beribarat dengan angka.” Pak Tua tersenyum bijak, “Gaji kau katakanlah enam ratus ribu, ditambah dengan uang haram itu, bisa jadi satu koma delapan juta. Kau butuh berapa tahun untuk mengumpulkan uang sepuluh milyar? 463 tahun, nyaris lima abad kau bekerja non-stop baru bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Kau tahu, butuh berapa lama pemilik kebun kelapa sawit kenalanku itu? Hanya enam bulan. Juga para pesohor, pengusaha, bahkan pemain bola ternama. Mereka hanya butuh hitungan tahun bahkan kurang untuk mendapatkan uang sejumlah itu. Kau sebaliknya, butuh lima abad. Dan kau tahu ironinya? Bedanya, Borno? Mereka melakukannya dengan jujur, kau melakukannya dengan curang, jahat.”
“Bagi kebanyakan pelaku korup, pencuri uang orang lain, bukan karena semata-mata mereka serakah atau jahat dari sananya, tetapi terkadang mereka tidak pernah paham kalau hidup ini hanya soal relatif perbandingan satu sama lain. Mereka membakar seluruh martabat, merendahkan harga diri, dengan mengunyah uang haram, menurut mereka uang itu sudah banyak benar, sudah mewah, bersenang-senang, mereka lupa dibandingkan kekayaan orang lain, itu sekadar angka-angka.”
“Apakah jadi bahagia dengan uang itu? Sepuluh milyar, kau bisa beli apa? Rumah, tanah, perhiasan, harta benda. Astaga, pesohor dunia satu sepatu-nya saja bisa satu milyar. Hidup ini sungguh sekadar soal perbandingan-perbandingan.
Kau butuh lima abad, mereka hanya butuh satu tahun, jadi kenapa kita tidak bersyukur saja atas keran rejeki yang ada.”
Sejak kecil, aku terbiasa mendengar Pak Tua bicara filosofi hidup, menceramahiku, tapi kali ini aku tidak terima. Bukan tentang mencuri itu jahat, aku sepakat soal itu, aku keberatan dengan kalimat terakhirnya, “Pak Tua, aku belum melakukannya, dan demi Tuhan aku tidak akan melakukannya.” Protes dengan seringai tersinggung.
“Nah, justeru karena kau belum melakukannya.” Pak Tua tertawa, “Kau tahu, dalam urusan seperti ini, cara terbaik mengingatkan orang lain adalah dengan menganggap dia telah melakukannya. Agar rasa jijik kau muncul membesar, tanpa ampun langsung membunuh niat buruk untuk tumbuh.”
Aku mendengus sebal, aku sengaja datang bertanya cara menyelesaikan masalah di dermaga feri baik-baik, Pak Tua justeru sibuk mencemaskan hal yang tidak perlu dia cemaskan.
Dua hari kemudian, diantar sepit Pak Tua, aku berangkat ke syahbandar Pontianak. Bang Togar yang mendengar aku menumpang sepit, bergegas menghidupkan perahu tempelnya, macam adegan film-film laga, membelah Kapuas menyusul. Berani-beraninya ada yang melanggar surat keputusan berlaminating itu, tidak peduli meski Pak Tua sekalipun.
“Hoi Togar, bukankah kau sendiri yang menulisnya, Borno dilarang naik sepit hingga dia berhenti kerja di pelampung?” Pak Tua santai menjawab seruan marah Bang Togar, dua perahu saling melintang di dekat dermaga kayu, jadi tontonan pengemudi lain dan para penumpang yang hendak menyeberang.
“Borno sudah berhenti dari pelampung itu, Togar. Boikot atas dirinya selesai demi hukum.” Pak Tua mengangkat bahu.
“Apanya yang sudah? Dia belum berhenti, kemarin siang aku masih melihatnya di dermaga haram itu.” Bang Togar mencak-mencak.
“Ah, kau ini seperti lupa saja, Togar. Dalam banyak urusan, kita terkadang sudah merasa selesai sebelum benar-benar berhenti. Seperti kau-lah misalnya, bukankah kau sudah merasa selesai urusan dengan istri kau walau belum benar-benar bercerai.”
Bang Togar kena skak-mat. Terdiam bagai patung, mendengar ranah personalnya disebut-sebut.
“Nah, sama saja dengan Borno, sejak dua hari lalu dia sudah merasa selesai dengan pelampung itu. Dia boleh naik sepit siapa saja. Ada yang merasa keberatan?” Pak Tua menoleh ke dermaga kayu.
Satu-dua masih mentertawakan wajah Bang Togar yang memerah, beberapa penumpang yang tahu urusan itu, karena melihat kertas berlaminating, mengangguk, bersepakat dengan Pak Tua, lantas bertepuk-tangan memberikan dukungan, disusul yang lain dan pengemudi sepit. Pak Tua tertawa, menepuk bahuku, “Kalau begitu, urusan boikot ini sudah selesai, Borno. Mari kita selesaikan urusan dengan pelampung dan pejabat syahbandar kenalan kau itu.”
***
Pak Tua benar, bukan urusanku nasib penjaga palang pintu dermaga feri setelah aku secara resmi melapor. Aku tidak mau dilibatkan lebih lanjut, juga tidak mau tahu, termasuk boleh jadi ada petinggi dermaga yang ikut terlibat, beking urusan jahat itu. Urusanku selesai dengan sekaligus menyerahkan surat berhenti. Aku menemui pejabat syahbandar, bilang amat menyesal dan minta maaf, satu bulan pun tidak bertahan. Pejabat syahbandar mengelus dahi, “Tidak mengapa, Borno. Bukan masalah besar. Kalau kau mau, aku bisa mencarikan pekerjaan baru. Ahiya, ada kenalanku, pengusaha besar di Pontianak, bisnisnya dari urusan ludah-meludah, tapi dia kaya raya. Hebat sekali orang ini, gedung miliknya memenuhi setiap jengkal kota Pontianak, bahkan lebih banyak dibanding Masjid atau Kelenteng dijadikan satu. Kau mau bekerja padanya?”
Ludah-meludah? Aku melipat dahi.
***
Gang Di Tepian Kapuas
Bang Togar memberikan ultimatum, satu bulan. Jika aku tetap bekerja di dermaga feri, maka aku akan dikucilkan dalam segenap aktivitas penduduk gang sempit tepian Kapuas, mulai dari main kartu di balai-balai bambu hingga kepanitiaan kalau ada tetangga yang menikah. Separuh lebih penghuni gang menganggap itu berlebihan, tetapi dengan gayanya yang menyebalkan dan sok-kuasa, boleh jadi dia bisa meyakinkan kalau apa yang kulakukan memang kejahatan besar. Kenapa harus satu bulan? “Hah, itu berarti si Borno sudah terima gajian dari bos pelampung. Aku tidak mau lagi lihat tampang orang yang sudah makan uang musuh besar kita. Bukan cuma otaknya, tubuhnya sudah tercemar.” Bang Togar menjawab tegas, berusaha ber-logika di atas logika.
Aku juga sudah bertekad bulat tidak akan berhenti, setelah begitu banyak provokasi dan perlakuan tidak adil, maka hanya ada satu kata dalam benakku: lawan. Dan Andi, sohib dekat yang dulu jago pelajaran kewarganegaraan, berapi-api membelaku, “Lihat saja nanti pas satu bulan, seberani apa dia melarang-larang orang merdeka berlalu-lalang. Itu pelanggaran UUD ‘45. Harusnya dia urus saja dulu keluarga sendiri. Lihat, bukankah dia sudah bertahun-tahun pisah rumah dengan istrinya.” Andi balas mengungkit-ungkit ranah personal Bang Togar. Situasi semakin dekat tenggat waktu kian runcing, sudah macam mau Perang Teluk, ketika Irak menginvansi Kuwait.
Untunglah, ternyata pertikaian besar itu tidak perlu terjadi.
Minggu ketiga aku bekerja di dermaga feri, pagi Senin yang cerah, dermaga telah lepas dibersihkan, sejauh mata memandang terlihat kinclong, aku dan dua rekan penjaga palang pintu sudah bersiap, dan kapal feri sudah sejak tadi stand-by menunggu penumpang pertama, bergemuruh lembut mesinnya. Kehidupan kota Pontianak mulai menggeliat.
“Hei, orang baru, tadinya kupikir kau staf khusus dari Jakarta.” Salah-satu rekan kerja berbisik, mulai menyobek tiket penumpang.
Aku menggeleng.
“Tadinya juga kusangka kau staf khusus pimpinan dermaga ini, langsung ditempatkan di palang masuk.” Rekan itu menyeringai ganjil.
Aku menggeleng, tanganku cekatan memeriksa karcis, penumpang seperti air bah berkerumun tak rapi di depan palang pintu. Berebut menjulurkan tiket masing-masing. Sebenarnya, dua minggu bekerja di sana, aku tidak terlalu akrab dengan dua rekan lain yang berjaga. Satu, karena sibuk memelototi penumpang; dua, rasa-rasanya mereka berdua sejak awal selalu menjaga jarak, menatapku menyelidik, berbisik-bisik entahlah.
“Tadinya kukira kau ditempatkan di sini untuk tugas khusus.” Tertawa kecil.
“Tugas khusus?” Aku menyeringai tidak mengerti, mempersilahkan dua penumpang melintas palang pintu, berlari-lari kecil takut tertinggal jadwal feri satu menit lagi.
“Yeah, begitulah. Mata-mata, Kawan.” Tertawa lagi.
Dan diantara kesibukan melayani para komuter penyeberang Kapuas, setelah dua minggu bekerja di sana, aku baru paham ada sesuatu di palang pintu, ada udang dibalik batu. Aku pikir, pekerjaan ini akan lurus-lurus saja. Berdiri, periksa karcis, selesai.
“Tiketnya?” Aku bertanya pada penumpang yang hendak masuk.
“Biarkan saja lewat.” Salah-satu rekan mengedipkan mata.
Biarkan lewat? Dahiku terlipat, menunjuk, satu-dua-enam penumpang yang melenggang melewati pintu masuk tanpa tiket. Rekan itu mengangguk penuh maksud. Aku menelan ludah.
“Kau tahu, Kawan. Mereka dua minggu terakhir terpaksa membeli tiket. Takut kau seorang mata-mata. Ternyata bukan. Semua bisa kembali normal.” Rekan itu menepuk bahuku, saat istirahat makan siang di salah-satu restoran dekat dermaga feri, menunya istimewa, gulai kambing plus jus buah.
Dua rekan kerjaku itu santai menjelaskan situasi. Setiap hari, sambil mencoret-coret di atas tisue meja makan, ada belasan ribu penumpang komuter penyeberang Kapuas, belum terhitung sepeda motor. “Kita hanya mengambil sedikit, Kawan. Paling satu-dua, mereka kebetulan tetangga, kenalan, kerabat, teman. Jadi ya begitulah, tidak mengapa tak bayar tiket.”
Aku merutuk dalam hati, satu-dua? Tadi pagi jumlahnya puluhan, kecuali dua orang ini punya kerabat multi ras, kolega begitu luas, baru dapat menjelaskan kebaikan hati ini.
“Lagipula kasihan, mereka harus membayar tiket pelampung setiap hari, mahal, gaji mereka kecil, kita bantu sedikit, dan mereka bantu kita dengan hanya menyetor separuh harga tiket setiap akhir bulan.”
Rahangku mengeras, penjelasan mereka sudah cukup.
Feri Kapuas hanya butuh lima belas menit (termasuk proses merapat), karena terlalu singkat, tidak ada pemeriksaan karcis di atas pelampung. Setelah membeli tiket di loket, satu-satunya yang memastikan tidak ada penumpang ilegal adalah petugas palang pintu. Tidak ada cross-check berikutnya.
“Kau akan dapat bagian, tenang saja.” Bodohnya, rekan kerja di depanku mengartikan ekspresi wajah merahku demikian, “Tapi ya itu, karena kau orang baru, tidak langsung kita bagi tiga ya. Cincai, kan?” Tertawa lepas, seperti kata mufakat sudah diambil.
***
“Kau tahu, Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau karet, kotor berlicak, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi darah dan daging kebaikan. Banyak orang yang kantornya wangi, sepatu mengkilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi darah-daging keburukan dan keburukan.” Ibu menatap prihatin, setelah terdiam beberapa saat lepas aku bercerita. Dari bingkai jendela rumah kayu sempit kami, kota Pontianak terlihat syahdu dibungkus malam.
Aku diam, memainkan jari. Ibu (selalu) benar.
“Kau dijanjikan dapat berapa?” Pak Tua, beberapa hari kemudian, saat aku sengaja bertandang ke rumahnya, bertanya.
Aku menyebut angka. Itu dua kali gaji bulananku, amat menggoda bagi yang tidak berpikir panjang.
“Ah, kecil itu.” Pak Tua tertawa, ringan melambaikan tangan, “Aku kenal pemilik kebun kelapa sawit di Sabah. Dia bisa dapat sejumlah uang yang kau sebut setiap detik.”
Aku menatap Pak Tua tidak mengerti.
“Beginilah, Borno. Mari kita berandai-andai, beribarat dengan angka.” Pak Tua tersenyum bijak, “Gaji kau katakanlah enam ratus ribu, ditambah dengan uang haram itu, bisa jadi satu koma delapan juta. Kau butuh berapa tahun untuk mengumpulkan uang sepuluh milyar? 463 tahun, nyaris lima abad kau bekerja non-stop baru bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Kau tahu, butuh berapa lama pemilik kebun kelapa sawit kenalanku itu? Hanya enam bulan. Juga para pesohor, pengusaha, bahkan pemain bola ternama. Mereka hanya butuh hitungan tahun bahkan kurang untuk mendapatkan uang sejumlah itu. Kau sebaliknya, butuh lima abad. Dan kau tahu ironinya? Bedanya, Borno? Mereka melakukannya dengan jujur, kau melakukannya dengan curang, jahat.”
“Bagi kebanyakan pelaku korup, pencuri uang orang lain, bukan karena semata-mata mereka serakah atau jahat dari sananya, tetapi terkadang mereka tidak pernah paham kalau hidup ini hanya soal relatif perbandingan satu sama lain. Mereka membakar seluruh martabat, merendahkan harga diri, dengan mengunyah uang haram, menurut mereka uang itu sudah banyak benar, sudah mewah, bersenang-senang, mereka lupa dibandingkan kekayaan orang lain, itu sekadar angka-angka.”
“Apakah jadi bahagia dengan uang itu? Sepuluh milyar, kau bisa beli apa? Rumah, tanah, perhiasan, harta benda. Astaga, pesohor dunia satu sepatu-nya saja bisa satu milyar. Hidup ini sungguh sekadar soal perbandingan-perbandingan.
Kau butuh lima abad, mereka hanya butuh satu tahun, jadi kenapa kita tidak bersyukur saja atas keran rejeki yang ada.”
Sejak kecil, aku terbiasa mendengar Pak Tua bicara filosofi hidup, menceramahiku, tapi kali ini aku tidak terima. Bukan tentang mencuri itu jahat, aku sepakat soal itu, aku keberatan dengan kalimat terakhirnya, “Pak Tua, aku belum melakukannya, dan demi Tuhan aku tidak akan melakukannya.” Protes dengan seringai tersinggung.
“Nah, justeru karena kau belum melakukannya.” Pak Tua tertawa, “Kau tahu, dalam urusan seperti ini, cara terbaik mengingatkan orang lain adalah dengan menganggap dia telah melakukannya. Agar rasa jijik kau muncul membesar, tanpa ampun langsung membunuh niat buruk untuk tumbuh.”
Aku mendengus sebal, aku sengaja datang bertanya cara menyelesaikan masalah di dermaga feri baik-baik, Pak Tua justeru sibuk mencemaskan hal yang tidak perlu dia cemaskan.
Dua hari kemudian, diantar sepit Pak Tua, aku berangkat ke syahbandar Pontianak. Bang Togar yang mendengar aku menumpang sepit, bergegas menghidupkan perahu tempelnya, macam adegan film-film laga, membelah Kapuas menyusul. Berani-beraninya ada yang melanggar surat keputusan berlaminating itu, tidak peduli meski Pak Tua sekalipun.
“Hoi Togar, bukankah kau sendiri yang menulisnya, Borno dilarang naik sepit hingga dia berhenti kerja di pelampung?” Pak Tua santai menjawab seruan marah Bang Togar, dua perahu saling melintang di dekat dermaga kayu, jadi tontonan pengemudi lain dan para penumpang yang hendak menyeberang.
“Borno sudah berhenti dari pelampung itu, Togar. Boikot atas dirinya selesai demi hukum.” Pak Tua mengangkat bahu.
“Apanya yang sudah? Dia belum berhenti, kemarin siang aku masih melihatnya di dermaga haram itu.” Bang Togar mencak-mencak.
“Ah, kau ini seperti lupa saja, Togar. Dalam banyak urusan, kita terkadang sudah merasa selesai sebelum benar-benar berhenti. Seperti kau-lah misalnya, bukankah kau sudah merasa selesai urusan dengan istri kau walau belum benar-benar bercerai.”
Bang Togar kena skak-mat. Terdiam bagai patung, mendengar ranah personalnya disebut-sebut.
“Nah, sama saja dengan Borno, sejak dua hari lalu dia sudah merasa selesai dengan pelampung itu. Dia boleh naik sepit siapa saja. Ada yang merasa keberatan?” Pak Tua menoleh ke dermaga kayu.
Satu-dua masih mentertawakan wajah Bang Togar yang memerah, beberapa penumpang yang tahu urusan itu, karena melihat kertas berlaminating, mengangguk, bersepakat dengan Pak Tua, lantas bertepuk-tangan memberikan dukungan, disusul yang lain dan pengemudi sepit. Pak Tua tertawa, menepuk bahuku, “Kalau begitu, urusan boikot ini sudah selesai, Borno. Mari kita selesaikan urusan dengan pelampung dan pejabat syahbandar kenalan kau itu.”
***
Pak Tua benar, bukan urusanku nasib penjaga palang pintu dermaga feri setelah aku secara resmi melapor. Aku tidak mau dilibatkan lebih lanjut, juga tidak mau tahu, termasuk boleh jadi ada petinggi dermaga yang ikut terlibat, beking urusan jahat itu. Urusanku selesai dengan sekaligus menyerahkan surat berhenti. Aku menemui pejabat syahbandar, bilang amat menyesal dan minta maaf, satu bulan pun tidak bertahan. Pejabat syahbandar mengelus dahi, “Tidak mengapa, Borno. Bukan masalah besar. Kalau kau mau, aku bisa mencarikan pekerjaan baru. Ahiya, ada kenalanku, pengusaha besar di Pontianak, bisnisnya dari urusan ludah-meludah, tapi dia kaya raya. Hebat sekali orang ini, gedung miliknya memenuhi setiap jengkal kota Pontianak, bahkan lebih banyak dibanding Masjid atau Kelenteng dijadikan satu. Kau mau bekerja padanya?”
Ludah-meludah? Aku melipat dahi.
***
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 6: ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’
Gang Di Tepian Kapuas
Sejak jaman si hantu pontianak bertekuk lutut, adalah perahu kayu yang menjadi primadona. Kemana-mana penduduk kota ini naik perahu kayu, mau berangkat sekolah, berangkat kerja, pergi kondangan, beranjangsana, berplesir-ria, berkunjung ke tetangga, termasuk hendak berbuat jahat, sepit adalah istimewa. Tentu jaman itu, perahu belum pakai mesin motor merk Jepang dengan PK-PK besar, masih pakai tenaga manusia, boleh jadi namanya masih selow.
Kota ini, kota sungai, selain Kapuas, juga ada cabang sungai lain yang bertemu di muara Laut China Selatan, maka tidak perlulah planolog lulusan terbaik untuk menyimpulkan, di kota ini transportasi air penting adanya. Jaman dulu, pemilik perahu kinclong, dari kayu paling kuat, dibuat oleh tukang paling baik rasa-rasannya sama levelnya dengan punya mobil mewah sekelas jaguar hari ini, status sosial nomor satu. Apalagi kalau punya belasan perahu, sudah macam punya garasi penuh mobil saja, bedanya tempat berderet-deretnya di dermaga atau tertambat di bawah rumah panggung.
Jaman berubah. Jembatan besar yang hanya ada dalam angan, selesai dibangun Repelita Tiga, orang-orang tua yang lahir di tahun masih berkepala 18 sekian sekian, dan masih sehat walafiat ketika presiden republik ini meresmikan jembatan itu ternganga kagum, “Amboi, alangkah besarnya. Sungguhkah ini nyata?” Dulu berkecipak-kecipak menyeberangi Kapuas butuh dua puluh menit dengan peluh mengucur karena harus kuat mendayung, tak becus tangan kalian mengayuh, bisa jadi terseret arus Kapuas dan terlalu hilir ratusan meter, dan saat menyeberang balik, lagi-lagi terlalu hilir ratusan meter. Total jenderal harus berhuluan lagi beratus-ratus meter. Repot. Ketika jembatan jadi, menyeberangi sungai tinggal hitungan menit. Menakjubkan.
Hadirnya jembatan beton di kota Pontianak sedikit banyak memangkas peradaban sepit. Kabar baiknya, jembatan itu dibangun di hulu, bukan persis di pusat kota—dibangun agak ke hulu dengan alasan agar tidak mengganggu lalu-lintas kapal besar, estetika, teknis, pembebasan lahan, perkembangan kota dan termasuk penghematan biaya. Dengan demikian, penduduk di jantung Pontianak terpaksa harus memutar jauh menumpang bus, mobil, atau angkot jika hendak menyeberang. Jembatan beton bukan masalah besar, dalam sisi tertentu perahu tempel tetap kompetitif.
Yang menjadi lawan tangguh sepit adalah: datangnya pelampung. Benar, pelampung, tentu aku tidak salah tulis. Pelampung inilah yang membuat Bang Togar mencak-mencak mendengar kabar aku diterima bekerja di dermaga feri. Malam-malam, beringas dia menghampiriku yang asyik memetik gitar bersama Andi, melantunkan lagu-lagu Melayu, dan tanpa ba-bi-bu, Bang Togar merampas gitarku, melotot, sekejap seruan marah buncah sudah dari mulutnya.
“Kau anak tidak tahu diuntung, Borno! Tiga turunan! Tiga turunan pelampung itu menghabisi kehidupan kita!” Bang Togar membentak, Andi yang tadi sambil menyanyi bilang motor besar kepala kampung masih belum beres, ikut mencicit.
“Kakek kau punya sepuluh sepit puluhan tahun silam, hidup makmur, lantas datanglah pelampung itu, yang kelasinya saja tidak becus berenang, sisa berapa sepit Kakek kau setahun setelah mereka datang? Sisa satu, sembilan lainnya teronggok jadi kayu lapuk? Lantas almarhum bapak kau mewarisi berapa sepit? Hanya perahu mencari ikan jeleknya. Dan kau sekarang, punya apa? Hanya bermain gitar butut menyanyikan lagu basi. Seluruh kampung ini dulu hidup berada, Borno. Kita dihormati, dikenal banyak orang, berkecukupan. Kau lihat sekarang? Hanya sisa gang sempit dan bau.”
Aku meneguk ludah.
“Puluhan tahun silam, mereka bilang hanya satu-dua pelampung saja yang datang, ternyata banyak. Mereka bilang hanya jam-jam tertentu saja beroperasi, ternyata setiap saat, dengan frekuensi tinggi. Mereka bilang akan merekrut pengemudi sepit penduduk gang ini, ternyata tidak. Satu pelampung itu, sekali berjalan, menghabisi dua puluh sepit, Borno. Kau hitung sendiri berapa sepit yang musnah seharian? Ratusan. Dan kau pura-pura lupa, hah? Kakek kau mati ditabrak pelampung haram itu. Jasmerah, Borno, Jasmerah!”
Mulutku bungkam, kemarahan Bang Togar rasa-rasanya seperti menelan bulan yang nyaris purnama, bagaimanalah aku bisa menangkis barang satu-dua kalimatnya, Bang Togar bahkan membawa semboyan Bung Karno yang terkenal itu dalam marahnya, Jasmerah, Jangan Suka Melupakan Sejarah. Andi di sebelahku menahan nafas, dan kepala-kepala mulai bermunculan dari balik pintu serta jendela sepanjang gang, bertanya-tanya, siapa yang sedang sial diomelin suara khas Bang Togar.
Lima belas menit Bang Togar menghardikku di balai bambu, aku tertunduk, puas dia, akhirnya beranjak pergi sambil kasar melemparkan gitar. Aku dan Andi bersitatap tanpa kata, lantas beringsut pulang ke rumah masing-masing—tentu dengan tampang malu dibasuh tatapan mata tetangga.
“Itulah kenapa penduduk kota ini terbiasa menyebut kapal feri dengan pelampung, Borno.” Pak Tua menepuk bahuku, esok hari, saat menumpang sepitnya menyeberangi Kapuas. Tadi tidak ada satupun sepit yang mau kutumpangi, semua pengemudinya bermuka masam, boleh jadi kabar aku bekerja di feri itu sudah terdengar kemana-mana. “Sebutan itu sebenarnya simbol perlawanan, penghinaan, Borno. Kau lihat, perahu kecil terbuat dari kayu bermesin tempel ini disebut sepit, sementara perahu besar dari besi dengan mesin menggelegar hanya disebut pelampung. Bagaimana mungkin kau menyeberangi Kapuas dengan pelampung? Ada-ada saja.” Pak Tua tertawa prihatin.
“Jangan dengarkan si Togar itu.” Ibu menghiburku tiga hari kemudian, “Omong-kosong soal Kakek kau dulu yang ditabrak pelampung. Itu kecelakaan, dan salah mereka juga yang tetap melintas di jalur feri, sengaja menantang. Kau hidup di jaman berbeda, feri itu sudah menjadi kebutuhan seluruh kota. Sama halnya dengan sepit yang tetap akan dibutuhkan.”
Aku tetap menggeleng sedih, tadi sore, Pak Tua akhirnya ikutan menolak membawaku. Tinggallah aku macam kambing congek di dermaga kayu, tidak bisa pulang menyeberang. “Aku mau saja, Borno. Tetapi semua pengemudi sepit sudah bersepakat, kau dilarang menumpang perahu manapun hingga kau berhenti bekerja dari dermaga feri. Dalam kasus ini, kesepakatan adalah kesepakatan, aku harus menghargai mufakat di antara kami, meski bodoh dan naif sekali mufakat kali ini. Karena dari situlah seorang dihargai dalam alam demokrasi.”
Aku menatap Pak Tua setengah tidak percaya, hendak berteriak ikut marah, pengemudi sepit lainnya menatap prihatin dari atas perahu masing-masing. Petugas timer melotot galak, bersiap mengusirku kalau berani loncat ke perahu tempel yang merapat di dermaga dan sedang dinaiki penumpang. Hampir seluruh pengemudi sepit aku kenal, sama baiknya mereka mengenal aku, bagaimana mungkin mereka tega membuat kesepakatan itu?
“Haiya, kalau begitu apa susahnya? Kau berhenti saja bekerja di pelampung, mudah sekali. Terus terang saja, aku lebih suka bau karet kau dulu dibanding tampang masam kau sekarang.” Koh Acung yang menyerahkan minyak sayur setengah liter titipan Ibu menyeringai menyebalkan.
Tidak mudah, aku baru seminggu bekerja di sana, mendapatkan rekomendasi langsung dari pejabat syahbandar, bagaimana mungkin aku tiba-tiba berhenti dengan alasan konyol?
“Sebenarnya kau jadi apa di pelampung itu? Sayang sekali kau dengan pekerjaan di sana.” Cik Tulani yang malam kesekian mampir mengirimkan makanan buat Ibu bertanya—sebenarnya masakan warung dia yang sisa, daripada basi, lebih baik diberikan ke tetangga, mana ada model Cik Tulani yang soal beli ikan saja pelit akan sebaik hati itu.
“Jadi penjaga palang masuk, Cik.”
“Apa pula itu?” Cik Tulani bertanya.
“Pemeriksa karcis.” Aku menjelaskan.
“Karcis? Buat apa ada karcis?”
Aku menahan sebal, ternyata Cik Tulani itu, meski berpuluh tahun hidup di Pontianak, tidak sekalipun naik kapal feri, “Hah, buat apa aku naik pelampung itu? Bikin mabuk. Lebih mantap naik sepit, tanganku bisa menyentuh air Kapuas, bila perlu sambil cuci muka dan keramas. Lagipula aku cukup jalan kaki ke dermaga kayu, duduk tenang, lempar uang, selesai.” Cik Tulani menjawab sengit, tidak terima.
Jadi begini, pengemudi sepit memang tidak pernah menarik ongkos dari penumpang, kalian naik, duduk rapi, lantas ketika mau sampai di seberang, tinggal letakkan uang sesuai tarif berlaku di dasar perahu, loncat ke dermaga, bilang terima-kasih. Pengemudi sepit juga tidak pernah repot buru-buru memastikan apakah ada penumpang yang berani naik tanpa meletakkan uang, setelah merapat ke antrian sepit di dermaga, baru memungut gumpalan uang-uang itu.
“Cih, dari cara itu saja sudah terlihat sekali mana yang lebih baik, sepit atau pelampung haram itu.” Bang Togar sengaja berseru kencang-kencang melihatku melintas di hari berikutnya, “Sepit itu simbol rasa saling percaya, egaliter, dan kepraktisan. Mana ada penumpangnya diperiksa satu persatu apakah sudah punya karcis atau tidak.”
Aku hanya diam, meski hatiku mengkal, hendak berseru, “Bukankah bulan lalu ada pengemudi sepit yang marah-marah karena penumpangnya turis dari Jakarta. Rombongan turis itu tidak satupun mengerti aturan mainnya, jadi tidak satupun yang meletakkan uang di dasar perahu. Langsung loncat ke dermaga kayu, pergi sambil berbisik-bisik setengah tidak percaya, ternyata ada fasilitas menyeberangi Kapuas gratis disediakan pemerintah.” Rutukku sengit dalam hati.
Dua minggu bekerja di dermaga feri, situasinya semakin runyam. Setiap berangkat dan pulang kerja aku terpaksa menumpang angkutan umum, tiga kali ganti kendaraan, waktu terbuang percuma, dan ongkos lebih mahal. Bang Togar dan persatuan sepit-nya sekarang malah memasang surat keputusan melarangku naik sepit di dermaga kayu, dia laminating, dia kasih fotoku, tertempel besar-besar, sudah macam larangan bepergian ke LN, membuat banyak penumpang sepit tahu.
Bagaimana aku harus menaruh muka?
“Ah, esok lusa juga mereka bosan memboikot kau, Borno.” Andi membesarkan hati.
“Terserah kau sajalah, mana yang baik.” Ibu akhirnya mengalah, meski tetap kesal, “Kalau saja Ibu kuat berjalan ke dermaga itu, sudah kumarahi si Togar. Semakin hari semakin aneh kelakuannya.”
“Boleh jadi Togar berlebihan,” Pak Tua menghela nafas, saat aku berkunjung ke rumahnya, hari libur kerja, “Tetapi kau tidak bisa menafikan kalimatnya, Borno. Tiga turunan, dia benar. Dan kau adalah penduduk gang ini, keturunan langsung pemilik sepit, maka benci Togar semakin menjadi.”
Aku menatap gemerlap lampu kota Pontianak di seberang Kapuas sana dari bingkai jendela rumah kayu Pak Tua. Malam yang indah, bintang menghias angkasa, malam semakin matang, pantulan cahaya di permukaan air terlihat berkilat-kilat. Kerlip lampu dari perahu yang melintas takjim, suara mesin kapal mendayu-dayu. Kota ini elok nian di malam hari.
Aku harus segera memutuskan, berhenti bekerja dari pelampung itu atau cepat atau lambat seluruh gang memusuhiku.
***
Gang Di Tepian Kapuas
Sejak jaman si hantu pontianak bertekuk lutut, adalah perahu kayu yang menjadi primadona. Kemana-mana penduduk kota ini naik perahu kayu, mau berangkat sekolah, berangkat kerja, pergi kondangan, beranjangsana, berplesir-ria, berkunjung ke tetangga, termasuk hendak berbuat jahat, sepit adalah istimewa. Tentu jaman itu, perahu belum pakai mesin motor merk Jepang dengan PK-PK besar, masih pakai tenaga manusia, boleh jadi namanya masih selow.
Kota ini, kota sungai, selain Kapuas, juga ada cabang sungai lain yang bertemu di muara Laut China Selatan, maka tidak perlulah planolog lulusan terbaik untuk menyimpulkan, di kota ini transportasi air penting adanya. Jaman dulu, pemilik perahu kinclong, dari kayu paling kuat, dibuat oleh tukang paling baik rasa-rasannya sama levelnya dengan punya mobil mewah sekelas jaguar hari ini, status sosial nomor satu. Apalagi kalau punya belasan perahu, sudah macam punya garasi penuh mobil saja, bedanya tempat berderet-deretnya di dermaga atau tertambat di bawah rumah panggung.
Jaman berubah. Jembatan besar yang hanya ada dalam angan, selesai dibangun Repelita Tiga, orang-orang tua yang lahir di tahun masih berkepala 18 sekian sekian, dan masih sehat walafiat ketika presiden republik ini meresmikan jembatan itu ternganga kagum, “Amboi, alangkah besarnya. Sungguhkah ini nyata?” Dulu berkecipak-kecipak menyeberangi Kapuas butuh dua puluh menit dengan peluh mengucur karena harus kuat mendayung, tak becus tangan kalian mengayuh, bisa jadi terseret arus Kapuas dan terlalu hilir ratusan meter, dan saat menyeberang balik, lagi-lagi terlalu hilir ratusan meter. Total jenderal harus berhuluan lagi beratus-ratus meter. Repot. Ketika jembatan jadi, menyeberangi sungai tinggal hitungan menit. Menakjubkan.
Hadirnya jembatan beton di kota Pontianak sedikit banyak memangkas peradaban sepit. Kabar baiknya, jembatan itu dibangun di hulu, bukan persis di pusat kota—dibangun agak ke hulu dengan alasan agar tidak mengganggu lalu-lintas kapal besar, estetika, teknis, pembebasan lahan, perkembangan kota dan termasuk penghematan biaya. Dengan demikian, penduduk di jantung Pontianak terpaksa harus memutar jauh menumpang bus, mobil, atau angkot jika hendak menyeberang. Jembatan beton bukan masalah besar, dalam sisi tertentu perahu tempel tetap kompetitif.
Yang menjadi lawan tangguh sepit adalah: datangnya pelampung. Benar, pelampung, tentu aku tidak salah tulis. Pelampung inilah yang membuat Bang Togar mencak-mencak mendengar kabar aku diterima bekerja di dermaga feri. Malam-malam, beringas dia menghampiriku yang asyik memetik gitar bersama Andi, melantunkan lagu-lagu Melayu, dan tanpa ba-bi-bu, Bang Togar merampas gitarku, melotot, sekejap seruan marah buncah sudah dari mulutnya.
“Kau anak tidak tahu diuntung, Borno! Tiga turunan! Tiga turunan pelampung itu menghabisi kehidupan kita!” Bang Togar membentak, Andi yang tadi sambil menyanyi bilang motor besar kepala kampung masih belum beres, ikut mencicit.
“Kakek kau punya sepuluh sepit puluhan tahun silam, hidup makmur, lantas datanglah pelampung itu, yang kelasinya saja tidak becus berenang, sisa berapa sepit Kakek kau setahun setelah mereka datang? Sisa satu, sembilan lainnya teronggok jadi kayu lapuk? Lantas almarhum bapak kau mewarisi berapa sepit? Hanya perahu mencari ikan jeleknya. Dan kau sekarang, punya apa? Hanya bermain gitar butut menyanyikan lagu basi. Seluruh kampung ini dulu hidup berada, Borno. Kita dihormati, dikenal banyak orang, berkecukupan. Kau lihat sekarang? Hanya sisa gang sempit dan bau.”
Aku meneguk ludah.
“Puluhan tahun silam, mereka bilang hanya satu-dua pelampung saja yang datang, ternyata banyak. Mereka bilang hanya jam-jam tertentu saja beroperasi, ternyata setiap saat, dengan frekuensi tinggi. Mereka bilang akan merekrut pengemudi sepit penduduk gang ini, ternyata tidak. Satu pelampung itu, sekali berjalan, menghabisi dua puluh sepit, Borno. Kau hitung sendiri berapa sepit yang musnah seharian? Ratusan. Dan kau pura-pura lupa, hah? Kakek kau mati ditabrak pelampung haram itu. Jasmerah, Borno, Jasmerah!”
Mulutku bungkam, kemarahan Bang Togar rasa-rasanya seperti menelan bulan yang nyaris purnama, bagaimanalah aku bisa menangkis barang satu-dua kalimatnya, Bang Togar bahkan membawa semboyan Bung Karno yang terkenal itu dalam marahnya, Jasmerah, Jangan Suka Melupakan Sejarah. Andi di sebelahku menahan nafas, dan kepala-kepala mulai bermunculan dari balik pintu serta jendela sepanjang gang, bertanya-tanya, siapa yang sedang sial diomelin suara khas Bang Togar.
Lima belas menit Bang Togar menghardikku di balai bambu, aku tertunduk, puas dia, akhirnya beranjak pergi sambil kasar melemparkan gitar. Aku dan Andi bersitatap tanpa kata, lantas beringsut pulang ke rumah masing-masing—tentu dengan tampang malu dibasuh tatapan mata tetangga.
“Itulah kenapa penduduk kota ini terbiasa menyebut kapal feri dengan pelampung, Borno.” Pak Tua menepuk bahuku, esok hari, saat menumpang sepitnya menyeberangi Kapuas. Tadi tidak ada satupun sepit yang mau kutumpangi, semua pengemudinya bermuka masam, boleh jadi kabar aku bekerja di feri itu sudah terdengar kemana-mana. “Sebutan itu sebenarnya simbol perlawanan, penghinaan, Borno. Kau lihat, perahu kecil terbuat dari kayu bermesin tempel ini disebut sepit, sementara perahu besar dari besi dengan mesin menggelegar hanya disebut pelampung. Bagaimana mungkin kau menyeberangi Kapuas dengan pelampung? Ada-ada saja.” Pak Tua tertawa prihatin.
“Jangan dengarkan si Togar itu.” Ibu menghiburku tiga hari kemudian, “Omong-kosong soal Kakek kau dulu yang ditabrak pelampung. Itu kecelakaan, dan salah mereka juga yang tetap melintas di jalur feri, sengaja menantang. Kau hidup di jaman berbeda, feri itu sudah menjadi kebutuhan seluruh kota. Sama halnya dengan sepit yang tetap akan dibutuhkan.”
Aku tetap menggeleng sedih, tadi sore, Pak Tua akhirnya ikutan menolak membawaku. Tinggallah aku macam kambing congek di dermaga kayu, tidak bisa pulang menyeberang. “Aku mau saja, Borno. Tetapi semua pengemudi sepit sudah bersepakat, kau dilarang menumpang perahu manapun hingga kau berhenti bekerja dari dermaga feri. Dalam kasus ini, kesepakatan adalah kesepakatan, aku harus menghargai mufakat di antara kami, meski bodoh dan naif sekali mufakat kali ini. Karena dari situlah seorang dihargai dalam alam demokrasi.”
Aku menatap Pak Tua setengah tidak percaya, hendak berteriak ikut marah, pengemudi sepit lainnya menatap prihatin dari atas perahu masing-masing. Petugas timer melotot galak, bersiap mengusirku kalau berani loncat ke perahu tempel yang merapat di dermaga dan sedang dinaiki penumpang. Hampir seluruh pengemudi sepit aku kenal, sama baiknya mereka mengenal aku, bagaimana mungkin mereka tega membuat kesepakatan itu?
“Haiya, kalau begitu apa susahnya? Kau berhenti saja bekerja di pelampung, mudah sekali. Terus terang saja, aku lebih suka bau karet kau dulu dibanding tampang masam kau sekarang.” Koh Acung yang menyerahkan minyak sayur setengah liter titipan Ibu menyeringai menyebalkan.
Tidak mudah, aku baru seminggu bekerja di sana, mendapatkan rekomendasi langsung dari pejabat syahbandar, bagaimana mungkin aku tiba-tiba berhenti dengan alasan konyol?
“Sebenarnya kau jadi apa di pelampung itu? Sayang sekali kau dengan pekerjaan di sana.” Cik Tulani yang malam kesekian mampir mengirimkan makanan buat Ibu bertanya—sebenarnya masakan warung dia yang sisa, daripada basi, lebih baik diberikan ke tetangga, mana ada model Cik Tulani yang soal beli ikan saja pelit akan sebaik hati itu.
“Jadi penjaga palang masuk, Cik.”
“Apa pula itu?” Cik Tulani bertanya.
“Pemeriksa karcis.” Aku menjelaskan.
“Karcis? Buat apa ada karcis?”
Aku menahan sebal, ternyata Cik Tulani itu, meski berpuluh tahun hidup di Pontianak, tidak sekalipun naik kapal feri, “Hah, buat apa aku naik pelampung itu? Bikin mabuk. Lebih mantap naik sepit, tanganku bisa menyentuh air Kapuas, bila perlu sambil cuci muka dan keramas. Lagipula aku cukup jalan kaki ke dermaga kayu, duduk tenang, lempar uang, selesai.” Cik Tulani menjawab sengit, tidak terima.
Jadi begini, pengemudi sepit memang tidak pernah menarik ongkos dari penumpang, kalian naik, duduk rapi, lantas ketika mau sampai di seberang, tinggal letakkan uang sesuai tarif berlaku di dasar perahu, loncat ke dermaga, bilang terima-kasih. Pengemudi sepit juga tidak pernah repot buru-buru memastikan apakah ada penumpang yang berani naik tanpa meletakkan uang, setelah merapat ke antrian sepit di dermaga, baru memungut gumpalan uang-uang itu.
“Cih, dari cara itu saja sudah terlihat sekali mana yang lebih baik, sepit atau pelampung haram itu.” Bang Togar sengaja berseru kencang-kencang melihatku melintas di hari berikutnya, “Sepit itu simbol rasa saling percaya, egaliter, dan kepraktisan. Mana ada penumpangnya diperiksa satu persatu apakah sudah punya karcis atau tidak.”
Aku hanya diam, meski hatiku mengkal, hendak berseru, “Bukankah bulan lalu ada pengemudi sepit yang marah-marah karena penumpangnya turis dari Jakarta. Rombongan turis itu tidak satupun mengerti aturan mainnya, jadi tidak satupun yang meletakkan uang di dasar perahu. Langsung loncat ke dermaga kayu, pergi sambil berbisik-bisik setengah tidak percaya, ternyata ada fasilitas menyeberangi Kapuas gratis disediakan pemerintah.” Rutukku sengit dalam hati.
Dua minggu bekerja di dermaga feri, situasinya semakin runyam. Setiap berangkat dan pulang kerja aku terpaksa menumpang angkutan umum, tiga kali ganti kendaraan, waktu terbuang percuma, dan ongkos lebih mahal. Bang Togar dan persatuan sepit-nya sekarang malah memasang surat keputusan melarangku naik sepit di dermaga kayu, dia laminating, dia kasih fotoku, tertempel besar-besar, sudah macam larangan bepergian ke LN, membuat banyak penumpang sepit tahu.
Bagaimana aku harus menaruh muka?
“Ah, esok lusa juga mereka bosan memboikot kau, Borno.” Andi membesarkan hati.
“Terserah kau sajalah, mana yang baik.” Ibu akhirnya mengalah, meski tetap kesal, “Kalau saja Ibu kuat berjalan ke dermaga itu, sudah kumarahi si Togar. Semakin hari semakin aneh kelakuannya.”
“Boleh jadi Togar berlebihan,” Pak Tua menghela nafas, saat aku berkunjung ke rumahnya, hari libur kerja, “Tetapi kau tidak bisa menafikan kalimatnya, Borno. Tiga turunan, dia benar. Dan kau adalah penduduk gang ini, keturunan langsung pemilik sepit, maka benci Togar semakin menjadi.”
Aku menatap gemerlap lampu kota Pontianak di seberang Kapuas sana dari bingkai jendela rumah kayu Pak Tua. Malam yang indah, bintang menghias angkasa, malam semakin matang, pantulan cahaya di permukaan air terlihat berkilat-kilat. Kerlip lampu dari perahu yang melintas takjim, suara mesin kapal mendayu-dayu. Kota ini elok nian di malam hari.
Aku harus segera memutuskan, berhenti bekerja dari pelampung itu atau cepat atau lambat seluruh gang memusuhiku.
***
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 5: ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’
Gang Di Tepian Kapuas
Berbekal kabar singkat, aku memberanikan diri membawa map merah lengkap dengan surat lamaran, fotokopi ijasah, biodata singkat, surat keterangan berkelakuan baik, surat kuning—surat keterangan mencari kerja, surat keterangan belum menikah dan siap tidak menikah dalam masa tertentu jika diterima, dan macam-macam surat itulah, berangkat ke kantor syahbandar Pontianak. Satpam gerbang menyelidik dari ujung rambut ke ujung kaki, sejak kecil aku selalu grogi diperhatikan begitu, balas menyelidik dia dari ujung topi ke ujung kaki, agak lama memelototi name tag-nya, mengangguk, lantas sesopan mungkin berkata, “Kudengar ada lowongan di sini, Pak Mardud. Saya hendak melamar.”
Ini resep rahasia milik Pak Tua, dan kalian bisa lakukan kapan saja, manjur nan mujarab. Jika kalian berurusan dengan polisi lalu-lintas, satpam galak tanpa senyum, petugas keamanan, imigrasi atau sejenis lainnya yang tak ramah, sapalah dia dengan menyebut namanya, santai, bersahabat, maka urusan jadi gampang seketika. “Karena mereka terkadang sudah kesal dari sananya, Borno. Seharian atau semalaman bosan berjaga, menghadapi orang-orang. Kau lurus-lurus saja bisa mengundang masalah, apalagi kalau kau memang membawa masalah. Nah, dengan menyapa nama, itu membuat mereka merasa dihargai setelah kesal sepanjang hari. Percayalah. Itu selalu berhasil.”
Bukan main, Pak Mardud bukan hanya memasang wajah lebih bersahabat dua detik lepas aku menggunakan jurus sakti Pak Tua, dia bahkan tertawa lebar.
“Kau tahu ruangannya, Nak?”
“Tidak tahu, Pak Mardud.”
“Kau lihat pintu masuk lobi sana? Ya yang itu, di dalamnya ada lorong ke kanan, kau ikuti, terus belok kiri naik tangga, ada lorong lagi, ikuti, nanti ada pintu dengan papan nama ‘Tata Usaha’. Serahkan lamaran kau di sana.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih banyak, Pak Mardud.” Hendak melangkah masuk.
“Sebentar, KTP kau tolong ditinggalkan, Nak.”
Aku mengangguk-angguk, “KTP? Oh, baiklah Pak Mardud.” Untuk keempat kalinya aku sengaja benar menyebut nama Satpam ini dengan baik dan benar, lugas nan jelas. Meraih dompet, Pak Mardud menukar KTP-ku dengan name-tag bertuliskan VISITOR. Sambil memasang name-tag, aku melangkah melintasi halaman syahbandar yang dipenuhi kontainer.
“Sebentar. Kau tanda-tangan di sini.”
“Oh, tandatangan. Baiklah, Pak Mardud.”
Hendak melangkah lagi melintasi halaman syahbandar.
“Sebentar, Nak.”
“Ya, Pak Mardud?” Aku menoleh, apalagi.
“Hanya mau ngasih tahu, namaku bukan Mardud, ya. Ini seragam milik temanku, kebetulan tadi pagi seragamku kotor, jadi meminjam seragamnya. Namaku Amir. Panggil saja Pak Amir.”
Aku bengong sekejap. Satpam itu kemudian santai sambil bersiul, bersenandung, menulis namaku di buku besar tamunya.
Kasus di pintu gerbang syahbandar dengan cepat kulupakan, saat tiba di lantai dua, masuk ke ruangan Tata Usaha, terlihat seseorang dengan seragam pelabuhan rapi mulus, nampaknya dia salah-satu pejabat syahbandar, sedang mengomel panjang-lebar, dikelilingi staf lainnya yang kadang mengangguk-angguk, kadang ikutan memasang wajah marah. Seru sekali.
“Sial, kontainer haram itu ternyata berisi karet gulungan. Berani sekali di tengah rendahnya lalu-lintas perdagangan mereka menyelundupkan sepuluh kontainer tanpa dokumen bea cukai. Aku minta mulai besok pemeriksaan diperketat. Semua kapal yang merapat di pelabuhan Pontianak harus diperiksa. Tidak ada pengecualian.”
“Baik, Pak. Segera dilaksanakan.” Salah-satu staf sibuk mencatat.
“Untung Bapak melakukan inspeksi, jadi bisa ketahuan. Ini tangkapan besar lima tahun terakhir, Pak.” Staf yang lain bergegas memasang wajah kagum.
Sambil menguping, aku menyeringai melihat ekspresi kagum hambar mereka, teringat wajahku dulu saat diwawancarai pemilik pabrik karet, kenal sekali, itu raut wajahku dulu, sok paham sok setuju.
“Tapi terlepas dari itu, sialnya, saat kontainer itu dibuka, tangan dan bajuku terkena cipratan air karet, bau sekali.” Pejabat itu menunjukkan lengannya, “Aku memang sudah berganti baju, tapi tangan ini sudah kucuci dua-tiga kali, tetap tidak hilang-hilang.”
Kalau boleh, dilihat dari ekspresi wajahnya, beberapa staf ingin rasanya berebut menciumi tangan pak pejabat, merasakan bau yang disebut-sebut. Aku menahan geli.
“Sudah pakai sabun, Pak?” Ada yang ketelapasan bertanya bodoh.
“Tentu saja. Kau pikir aku tidak tahu soal itu, hah? Aku sudah pakai shampo, deterjen, apa-saja kata orang, tetap tidak hilang-hilang.” Pak pejabat itu mendengus kesal, kembali mengacungkan lengannya yang terkena air karet.
Kerumunan mengangguk-angguk, bersimpati sambil pura-pura memikirkan jalan keluar.
Aku ber-dehem, “Kalau boleh usul, aku tahu cara menghilangkannya.”
Mereka menoleh padaku. Sama seperti satpam di pintu gerbang, menyelidik dari ujung rambut ke ujung kaki. Sayang, meski aku dengan cepat hendak bergegas melihat name-tag mereka, ada dua hal yang membuatku kesulitan, satu: mereka ada bersepuluh, bagaimanalah aku hendak menyapa mereka satu-persatu, dua: ternyata tidak ada yang menggunakan name tag—jangan-jangan itu hanya dipakai pegawai kasta rendah, sedangkan di atasnya tidak perlu. Rumus baku Pak Tua tidak bisa kulaksanakan.
Aku mengeluh dalam hati, grogi dipelototi orang banyak, mana kerumunan ini-pula nampaknya tempat aku menyerahkan berkas lamaran, beruntung sebelum mereka serempak bertanya, “Siapa kau ikut-ikut campur percakapan orang?” Pak pejabat itu lebih dulu bertanya, “Nah, bagaimana caranya, anak muda?”
Aku menelan ludah, “Pakai daun singkong, Pak. Daunnya diremukkan, diberi air, lantas dipakai untuk mencuci tangan yang terkena cipratan air karet. Atau daun pepaya juga bisa.”
Pak pejabat itu berpikir sejenak, menatapku tajam, maksudnya apalagi kalau bukan: kau tidak sedang bergurau?
“Sungguh, pak. Saya berkali-kali, berkali-kali pernah terkena air karet bau, dan berkali-kali, berkali-kali juga menghilangkannya dengan cara itu.”
“Nah, di mana aku bisa mendapatkan daun singkong sekarang?” Pejabat itu melotot, awas saja kalau kau bohong.
“Pasar sayur pagi kalau tidak salah, dekat dari sini, pak. Lima ratus meter. Di sana pasti banyak.” Aku mengangkat bahu.
Pak Pejabat menoleh ke belakang, berteriak, “Malih, mana Malih.” Kerumunan juga ikut bergumam memanggil. Yang dipanggil segera merapat, menunduk-nunduk, bilang selamat pagi, ada yang bisa saya kerjakan, pak.
“Kau beli daun singkong di pasar sayur.”
“Daun singkong, pak?” Si Malih ragu-ragu. Bukankah selama ini hanya segelas kopi hangat, plus roti maryam buatan kampung Arab sudah cukup untuk sarapan pak pejabat.
“Daun singkong, Malih. Segera sana, tidak pakai lama, apalagi pakai tanya-tanya.”
Dan Malih-pun mengangguk mantap.
Aku teringat percakapan saat main kartu dua malam lalu, Malih ini pastilah kacung yang dimaksud. Menelan ludah dua kali, semoga aku tidak diterima menjadi kacung di sini. Celaka dua belas, meski itu tetap pekerjaan yang mulia (Ibu pernah bilang, “Bahkan penjaga kakus juga pekerjaan yang mulia, Borno. Sepanjang kau lakukan dengan tulus.”), aku belum siap memasang gerak-gerik dan ekspresi kacung sehalus dan semulus Malih.
Kabar baiknya tidak. Berkas lamaranku diterima, esok harinya aku dipanggil wawancara, di ruangan besar pejabat syahbandar. Dia tertawa senang melihatku, bilang betapa manjurnya saranku soal daun singkong kemarin. Membuka map merah milikku.
“Sayangnya kami hanya menerima calon pekerja yang cakap, Borno. Benar, saat kami butuh belasan tenaga kerja baru, kami membutuhkan petugas karantina dan juru pandu kapal. Berkasmu bahkan tidak cukup syarat untuk mengikuti tes tertulis. Kau masih muda sekali, baru lulus SMA. Kenapa kau tidak melanjutkan sekolah? Ambil akademi bea cukai departemen keuangan misalnya, gajinya alamak sekarang, atau sarjana muda pelayaran, atau bila perlu calon insinyur teknik perkapalan yang top di Surabaya, kau bisa bekerja di galangan kapal Eropa sana? Jangan tanya penghasilannya, gadis tercantik di Pontianak yang mata duitan, kau kerling sedikit langsung jatuh-hati.”
Aku menggeleng perlahan, bilang justeru dengan bekerja aku berharap punya cukup uang untuk sekalian kuliah.
“Klasik.” Pak Pejabat syahbandar tersenyum lebar, “Kau tipikal anak muda yang mandiri. Kau tahu, aku dulu juga begitu, harus bekerja keras agar punya uang sekolah. Seumuran kau, aku menjadi kuli di pabrik gula. Serabutan, disuruh ini-itu, kerja rendahan. Kau mau bekerja seperti itu?”
“Mau, Pak. Saya mau mengerjakan apa-saja di sini, asal jangan seperti Pak Malih.”
“Pak Malih? Oh, si Malih.” Pak pejabat terbahak, “Astaga, Borno, di sisi tertentu, ini antara kita berdua saja ya, kau bahkan lebih berharga dibanding staf yang mengerumuniku kemarin dijadikan satu.”
Demi sopan-santun aku ikut tertawa—walau tidak terlalu paham.
Pak Pejabat menelepon sebentar, menyebut-nyebut namaku, lantas bilang, “Jumlah pekerja kasar di syahbandar sudah terlalu banyak, Borno. Orang Jakarta selalu bertanya hal itu padaku setiap rapat bulanan. Tadi aku menghubungi kepala operator feri Kapuas, mereka bisa menampung. Kau datang saja besok ke sana. Nah, Borno, semoga saat kita bertemu lagi, kau tidak sekadar memberiku solusi daun singkong, tapi lebih hebat dari itu.” Pak Pejabat mengembalikan map merah, menyalamiku.
Besoknya aku berangkat ke dermaga feri Pontianak.
Jadi begini, selain motor tempel, atau disebut juga sepit (kalian pasti bisa menebaknya, dari kata speed; sama seperti sekolah dari kata school, bahasa Belanda), lalu-lintas penduduk Pontianak menyeberangi Kapuas juga dilayani oleh kapal feri. Tidak besar macam feri yang menyeberangi selat Bali atau selat Sunda apalagi selat Lombok, tetapi mereka bisa menaikkan sepeda motor, kapasitas penumpang mereka juga bisa dua puluh kali sepit, sekali feri datang, kerumunan di dermaga langsung tersapu habis. Pagi-pagi atau sore-sore saat lalu-lintas menyeberangi Kapuas sedang tinggi-tingginya, kapal feri menjadi pamungkas. Jika sepit punya beberapa dermaga kayu di sepanjang kota Pontianak, kapal feri hanya punya satu, di lokasi paling strategis, tengah kota, dermaga beton permanen.
Ke sanalah aku besok berangkat. Mandi pagi-pagi, memakai kemeja terbaik, yang apa daya adalah kemeja kemarin pagi yang buru-buru kucuci siangnya dan kusetrika malamnya.
“Doakan Borno sukses, Bu.” Aku mencium tangan Ibu.
“Kau macam mau pergi perang dengan Malaysia saja.” Ibu yang masih menyimpan memori ganyang negara tetangga puluhan tahun silam menyeringai.
Aku tertawa, mengucap salam.
Menumpang perahu tempel Bang Togar menyeberangi Kapuas.
“Kau sebenarnya mau kemana dengan pakaian rapi macam Walikota, hah? Kantor syahbandar Pontianak seperti kemarin? Biar kuantar, sekalian mau pulang, mesin sepit ku ini terkentut-kentut sejak tadi, khawatir malah mogok di tengah Kapuas. Kasihan penumpangnya.” Selepas tiba di seberang, Bang Togar bertanya.
Aku menggeleng, “Tak ke sana, Bang. Aku mau ke dermaga feri.”
“Dermaga feri? Apa pula urusan kau ke tempat itu?” Seringai Bang Togar yang biasanya ramah selalu (karena dia teman dekat almarhum Bapak dulu) langsung terlipat, masam seketika.
Aku ragu-ragu menjawab—merasa ada yang ganjil dengan tampang Bang Togar, “Eh, hendak melamar pekerjaan, Bang.”
“Astaga? Apa kau bilang?” Bang Togar terlonjak dari posisi duduknya mengendalikan sepit, hampir terjengkang ke dalam air.
Aku takut-takut mengangguk. Bang Togar ini besar tinggi, berkumis melintang. Terkenal sekali berwibawa dan berjiwa pemimpin, konon katanya seluruh penduduk Pontianak kenal. Dia adalah ketua PPSKT, Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta.
“Tiga turunan, Borno…. Tiga turunan! Kau ingat itu baik-baik!” Bang Togar kasar menunjuk hidungku.
Aku tercengang belum mengerti. Ternyata inilah yang membuat rumit urusan pekerjaan keduaku, kusut macam benang terpintal.
***
Gang Di Tepian Kapuas
Berbekal kabar singkat, aku memberanikan diri membawa map merah lengkap dengan surat lamaran, fotokopi ijasah, biodata singkat, surat keterangan berkelakuan baik, surat kuning—surat keterangan mencari kerja, surat keterangan belum menikah dan siap tidak menikah dalam masa tertentu jika diterima, dan macam-macam surat itulah, berangkat ke kantor syahbandar Pontianak. Satpam gerbang menyelidik dari ujung rambut ke ujung kaki, sejak kecil aku selalu grogi diperhatikan begitu, balas menyelidik dia dari ujung topi ke ujung kaki, agak lama memelototi name tag-nya, mengangguk, lantas sesopan mungkin berkata, “Kudengar ada lowongan di sini, Pak Mardud. Saya hendak melamar.”
Ini resep rahasia milik Pak Tua, dan kalian bisa lakukan kapan saja, manjur nan mujarab. Jika kalian berurusan dengan polisi lalu-lintas, satpam galak tanpa senyum, petugas keamanan, imigrasi atau sejenis lainnya yang tak ramah, sapalah dia dengan menyebut namanya, santai, bersahabat, maka urusan jadi gampang seketika. “Karena mereka terkadang sudah kesal dari sananya, Borno. Seharian atau semalaman bosan berjaga, menghadapi orang-orang. Kau lurus-lurus saja bisa mengundang masalah, apalagi kalau kau memang membawa masalah. Nah, dengan menyapa nama, itu membuat mereka merasa dihargai setelah kesal sepanjang hari. Percayalah. Itu selalu berhasil.”
Bukan main, Pak Mardud bukan hanya memasang wajah lebih bersahabat dua detik lepas aku menggunakan jurus sakti Pak Tua, dia bahkan tertawa lebar.
“Kau tahu ruangannya, Nak?”
“Tidak tahu, Pak Mardud.”
“Kau lihat pintu masuk lobi sana? Ya yang itu, di dalamnya ada lorong ke kanan, kau ikuti, terus belok kiri naik tangga, ada lorong lagi, ikuti, nanti ada pintu dengan papan nama ‘Tata Usaha’. Serahkan lamaran kau di sana.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih banyak, Pak Mardud.” Hendak melangkah masuk.
“Sebentar, KTP kau tolong ditinggalkan, Nak.”
Aku mengangguk-angguk, “KTP? Oh, baiklah Pak Mardud.” Untuk keempat kalinya aku sengaja benar menyebut nama Satpam ini dengan baik dan benar, lugas nan jelas. Meraih dompet, Pak Mardud menukar KTP-ku dengan name-tag bertuliskan VISITOR. Sambil memasang name-tag, aku melangkah melintasi halaman syahbandar yang dipenuhi kontainer.
“Sebentar. Kau tanda-tangan di sini.”
“Oh, tandatangan. Baiklah, Pak Mardud.”
Hendak melangkah lagi melintasi halaman syahbandar.
“Sebentar, Nak.”
“Ya, Pak Mardud?” Aku menoleh, apalagi.
“Hanya mau ngasih tahu, namaku bukan Mardud, ya. Ini seragam milik temanku, kebetulan tadi pagi seragamku kotor, jadi meminjam seragamnya. Namaku Amir. Panggil saja Pak Amir.”
Aku bengong sekejap. Satpam itu kemudian santai sambil bersiul, bersenandung, menulis namaku di buku besar tamunya.
Kasus di pintu gerbang syahbandar dengan cepat kulupakan, saat tiba di lantai dua, masuk ke ruangan Tata Usaha, terlihat seseorang dengan seragam pelabuhan rapi mulus, nampaknya dia salah-satu pejabat syahbandar, sedang mengomel panjang-lebar, dikelilingi staf lainnya yang kadang mengangguk-angguk, kadang ikutan memasang wajah marah. Seru sekali.
“Sial, kontainer haram itu ternyata berisi karet gulungan. Berani sekali di tengah rendahnya lalu-lintas perdagangan mereka menyelundupkan sepuluh kontainer tanpa dokumen bea cukai. Aku minta mulai besok pemeriksaan diperketat. Semua kapal yang merapat di pelabuhan Pontianak harus diperiksa. Tidak ada pengecualian.”
“Baik, Pak. Segera dilaksanakan.” Salah-satu staf sibuk mencatat.
“Untung Bapak melakukan inspeksi, jadi bisa ketahuan. Ini tangkapan besar lima tahun terakhir, Pak.” Staf yang lain bergegas memasang wajah kagum.
Sambil menguping, aku menyeringai melihat ekspresi kagum hambar mereka, teringat wajahku dulu saat diwawancarai pemilik pabrik karet, kenal sekali, itu raut wajahku dulu, sok paham sok setuju.
“Tapi terlepas dari itu, sialnya, saat kontainer itu dibuka, tangan dan bajuku terkena cipratan air karet, bau sekali.” Pejabat itu menunjukkan lengannya, “Aku memang sudah berganti baju, tapi tangan ini sudah kucuci dua-tiga kali, tetap tidak hilang-hilang.”
Kalau boleh, dilihat dari ekspresi wajahnya, beberapa staf ingin rasanya berebut menciumi tangan pak pejabat, merasakan bau yang disebut-sebut. Aku menahan geli.
“Sudah pakai sabun, Pak?” Ada yang ketelapasan bertanya bodoh.
“Tentu saja. Kau pikir aku tidak tahu soal itu, hah? Aku sudah pakai shampo, deterjen, apa-saja kata orang, tetap tidak hilang-hilang.” Pak pejabat itu mendengus kesal, kembali mengacungkan lengannya yang terkena air karet.
Kerumunan mengangguk-angguk, bersimpati sambil pura-pura memikirkan jalan keluar.
Aku ber-dehem, “Kalau boleh usul, aku tahu cara menghilangkannya.”
Mereka menoleh padaku. Sama seperti satpam di pintu gerbang, menyelidik dari ujung rambut ke ujung kaki. Sayang, meski aku dengan cepat hendak bergegas melihat name-tag mereka, ada dua hal yang membuatku kesulitan, satu: mereka ada bersepuluh, bagaimanalah aku hendak menyapa mereka satu-persatu, dua: ternyata tidak ada yang menggunakan name tag—jangan-jangan itu hanya dipakai pegawai kasta rendah, sedangkan di atasnya tidak perlu. Rumus baku Pak Tua tidak bisa kulaksanakan.
Aku mengeluh dalam hati, grogi dipelototi orang banyak, mana kerumunan ini-pula nampaknya tempat aku menyerahkan berkas lamaran, beruntung sebelum mereka serempak bertanya, “Siapa kau ikut-ikut campur percakapan orang?” Pak pejabat itu lebih dulu bertanya, “Nah, bagaimana caranya, anak muda?”
Aku menelan ludah, “Pakai daun singkong, Pak. Daunnya diremukkan, diberi air, lantas dipakai untuk mencuci tangan yang terkena cipratan air karet. Atau daun pepaya juga bisa.”
Pak pejabat itu berpikir sejenak, menatapku tajam, maksudnya apalagi kalau bukan: kau tidak sedang bergurau?
“Sungguh, pak. Saya berkali-kali, berkali-kali pernah terkena air karet bau, dan berkali-kali, berkali-kali juga menghilangkannya dengan cara itu.”
“Nah, di mana aku bisa mendapatkan daun singkong sekarang?” Pejabat itu melotot, awas saja kalau kau bohong.
“Pasar sayur pagi kalau tidak salah, dekat dari sini, pak. Lima ratus meter. Di sana pasti banyak.” Aku mengangkat bahu.
Pak Pejabat menoleh ke belakang, berteriak, “Malih, mana Malih.” Kerumunan juga ikut bergumam memanggil. Yang dipanggil segera merapat, menunduk-nunduk, bilang selamat pagi, ada yang bisa saya kerjakan, pak.
“Kau beli daun singkong di pasar sayur.”
“Daun singkong, pak?” Si Malih ragu-ragu. Bukankah selama ini hanya segelas kopi hangat, plus roti maryam buatan kampung Arab sudah cukup untuk sarapan pak pejabat.
“Daun singkong, Malih. Segera sana, tidak pakai lama, apalagi pakai tanya-tanya.”
Dan Malih-pun mengangguk mantap.
Aku teringat percakapan saat main kartu dua malam lalu, Malih ini pastilah kacung yang dimaksud. Menelan ludah dua kali, semoga aku tidak diterima menjadi kacung di sini. Celaka dua belas, meski itu tetap pekerjaan yang mulia (Ibu pernah bilang, “Bahkan penjaga kakus juga pekerjaan yang mulia, Borno. Sepanjang kau lakukan dengan tulus.”), aku belum siap memasang gerak-gerik dan ekspresi kacung sehalus dan semulus Malih.
Kabar baiknya tidak. Berkas lamaranku diterima, esok harinya aku dipanggil wawancara, di ruangan besar pejabat syahbandar. Dia tertawa senang melihatku, bilang betapa manjurnya saranku soal daun singkong kemarin. Membuka map merah milikku.
“Sayangnya kami hanya menerima calon pekerja yang cakap, Borno. Benar, saat kami butuh belasan tenaga kerja baru, kami membutuhkan petugas karantina dan juru pandu kapal. Berkasmu bahkan tidak cukup syarat untuk mengikuti tes tertulis. Kau masih muda sekali, baru lulus SMA. Kenapa kau tidak melanjutkan sekolah? Ambil akademi bea cukai departemen keuangan misalnya, gajinya alamak sekarang, atau sarjana muda pelayaran, atau bila perlu calon insinyur teknik perkapalan yang top di Surabaya, kau bisa bekerja di galangan kapal Eropa sana? Jangan tanya penghasilannya, gadis tercantik di Pontianak yang mata duitan, kau kerling sedikit langsung jatuh-hati.”
Aku menggeleng perlahan, bilang justeru dengan bekerja aku berharap punya cukup uang untuk sekalian kuliah.
“Klasik.” Pak Pejabat syahbandar tersenyum lebar, “Kau tipikal anak muda yang mandiri. Kau tahu, aku dulu juga begitu, harus bekerja keras agar punya uang sekolah. Seumuran kau, aku menjadi kuli di pabrik gula. Serabutan, disuruh ini-itu, kerja rendahan. Kau mau bekerja seperti itu?”
“Mau, Pak. Saya mau mengerjakan apa-saja di sini, asal jangan seperti Pak Malih.”
“Pak Malih? Oh, si Malih.” Pak pejabat terbahak, “Astaga, Borno, di sisi tertentu, ini antara kita berdua saja ya, kau bahkan lebih berharga dibanding staf yang mengerumuniku kemarin dijadikan satu.”
Demi sopan-santun aku ikut tertawa—walau tidak terlalu paham.
Pak Pejabat menelepon sebentar, menyebut-nyebut namaku, lantas bilang, “Jumlah pekerja kasar di syahbandar sudah terlalu banyak, Borno. Orang Jakarta selalu bertanya hal itu padaku setiap rapat bulanan. Tadi aku menghubungi kepala operator feri Kapuas, mereka bisa menampung. Kau datang saja besok ke sana. Nah, Borno, semoga saat kita bertemu lagi, kau tidak sekadar memberiku solusi daun singkong, tapi lebih hebat dari itu.” Pak Pejabat mengembalikan map merah, menyalamiku.
Besoknya aku berangkat ke dermaga feri Pontianak.
Jadi begini, selain motor tempel, atau disebut juga sepit (kalian pasti bisa menebaknya, dari kata speed; sama seperti sekolah dari kata school, bahasa Belanda), lalu-lintas penduduk Pontianak menyeberangi Kapuas juga dilayani oleh kapal feri. Tidak besar macam feri yang menyeberangi selat Bali atau selat Sunda apalagi selat Lombok, tetapi mereka bisa menaikkan sepeda motor, kapasitas penumpang mereka juga bisa dua puluh kali sepit, sekali feri datang, kerumunan di dermaga langsung tersapu habis. Pagi-pagi atau sore-sore saat lalu-lintas menyeberangi Kapuas sedang tinggi-tingginya, kapal feri menjadi pamungkas. Jika sepit punya beberapa dermaga kayu di sepanjang kota Pontianak, kapal feri hanya punya satu, di lokasi paling strategis, tengah kota, dermaga beton permanen.
Ke sanalah aku besok berangkat. Mandi pagi-pagi, memakai kemeja terbaik, yang apa daya adalah kemeja kemarin pagi yang buru-buru kucuci siangnya dan kusetrika malamnya.
“Doakan Borno sukses, Bu.” Aku mencium tangan Ibu.
“Kau macam mau pergi perang dengan Malaysia saja.” Ibu yang masih menyimpan memori ganyang negara tetangga puluhan tahun silam menyeringai.
Aku tertawa, mengucap salam.
Menumpang perahu tempel Bang Togar menyeberangi Kapuas.
“Kau sebenarnya mau kemana dengan pakaian rapi macam Walikota, hah? Kantor syahbandar Pontianak seperti kemarin? Biar kuantar, sekalian mau pulang, mesin sepit ku ini terkentut-kentut sejak tadi, khawatir malah mogok di tengah Kapuas. Kasihan penumpangnya.” Selepas tiba di seberang, Bang Togar bertanya.
Aku menggeleng, “Tak ke sana, Bang. Aku mau ke dermaga feri.”
“Dermaga feri? Apa pula urusan kau ke tempat itu?” Seringai Bang Togar yang biasanya ramah selalu (karena dia teman dekat almarhum Bapak dulu) langsung terlipat, masam seketika.
Aku ragu-ragu menjawab—merasa ada yang ganjil dengan tampang Bang Togar, “Eh, hendak melamar pekerjaan, Bang.”
“Astaga? Apa kau bilang?” Bang Togar terlonjak dari posisi duduknya mengendalikan sepit, hampir terjengkang ke dalam air.
Aku takut-takut mengangguk. Bang Togar ini besar tinggi, berkumis melintang. Terkenal sekali berwibawa dan berjiwa pemimpin, konon katanya seluruh penduduk Pontianak kenal. Dia adalah ketua PPSKT, Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta.
“Tiga turunan, Borno…. Tiga turunan! Kau ingat itu baik-baik!” Bang Togar kasar menunjuk hidungku.
Aku tercengang belum mengerti. Ternyata inilah yang membuat rumit urusan pekerjaan keduaku, kusut macam benang terpintal.
***
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 4: ‘Kau, Aku & Kota Kita’
Gang Di Tepian Kapuas
“Berangkat kerja, Kawan?” Suara khas itu menyapa.
Andi, teman seperjuanganku lulus SMA dulu (dengan NEM nyaris tak sampai standar Pemerintah berkuasa), sepagi ini, bukan main, sudah berkutat oli dan jelaga mesin. Di salah-satu pojokan gang, dia bekerja pada bapaknya yang punya bengkel motor sekaligus cuci salju. Jangan bayangkan seperti bengkel-bengkel keren authorized seperti di jalan protokol Pontianak, bapak Andi yang seratus persen Bugis hanya memanfaatkan depan rumah sempit mereka. Bekas minyak pelumas tumpah, serakan busi dan perkakas menghiasi, hitam-hitam di dinding menjadi grafiti, umbul-umbul kusam pemberian distributor oli sebagai penanda bengkel, dan etalase seadanya berisi spare-part. Sementara yang disebutnya dengan snow-wash itu ya cuma modal satu mesin pompa ban plus dikasih deterjen banyak-banyak. Mana tahu penduduk gang ini beda antara salju dan busa.
‘’Ya-lah.” Aku mengangguk, berhenti sebentar, memperhatikan serakan onderdil motor yang dilepas. Kasus Andi pagi ini menarik nian, satu motor gagah berwarna hitam terkapar di depannya.
“Sudah berapa kali kau gonta-ganti pekerjaan, Borno. Macam tidak ada tempat yang bisa membuat kau betah saja.” Bapak Andi yang masih sarungan, mengunyah pisang goreng, mengawasi anaknya bekerja, bertanya menyeringai. Aku mengangkat bahu, sebal menjawabnya. Seluruh gang juga tahu, kalau ada penghargaan bagi orang yang suka gonta-ganti pekerjaan, maka dua tahun terakhir aku pemenangnya. Kadang jadi bahan gurauan tidak lucu. Hanya Pak Tua yang berseloroh santai, “Itu artinya kau anti-thesis, Borno. Kata siapa mencari pekerjaan di negeri ini susah?” Menurut Ibu, “Sepanjang kau tidak berharap macam-macam, bekerja sebaik mungkin, selalu ihklas setiap pagi berangkat, senantiasa bersyukur setiap sore pulang, maka kau tidak akan kekurangan tempat bekerja, Borno. Jangan macam orang kebanyakan, selalu mengeluh, selalu sirik dengan pekerjaan orang lain, padahal pekerjaannya sudah baik sekali. Sayang sekali, sudah gajinya terbatas, mengeluh pula. Dunia tak dapat, akherat digadaikan dengan keluhan.”
“Ini motor siapa?” Aku ingin tahu.
“Motor kepala kampung. Baru dapat kemarin. Dikasih temannya dari Kuching, murah katanya beli di Malaysia. Tapi kondisinya rusak.” Andi menyeka pelipis, membuat tambah hitam dahinya. Aku bergumam, mengangguk. Sejenak memperhatikan, teringat sesuatu, bergegas melanjutkan langkah, aku harus tiba di tempat kerjaku sesegera mungkin. Pamit pada bapak Andi yang sekarang sibuk menepis-nepis ujung sarung—mungkin ada laba-laba atau serangga jahil masuk. Bapak Andi benar, dua tahun ini, meski bau, tempat bekerja paling lama bagiku di pabrik karet itu. Enam bulan. Yang lain satu-dua bulan saja.
“Kau tidak merokok, yah?” Itu pertanyaan pemilik pabrik karet saat mewawancariku sehari sebelum masuk kerja. China separuh baya, rambutnya sepertiga menguban, perutnya separuh gendut, tampangnya pol kebapakan.
Aku menggeleng.
“Bagus. Di sini tidak ada yang merokok, yah. Bukan tidak boleh, ini bukan pom bensin, boleh-boleh saja, yah. Tapi saya tidak suka ada yang merokok, yah.”
Aku mengangguk-angguk, sok setuju, sok paham.
“Namamu siapa tadi, yah? Borneo? Oh, Borno. Kau tahu, aku pernah punya pabrik tebu di Jawa Timur, tidak jauh dari pabrik rokok besar di sana, pemiliknya taipan paling kaya di seluruh negeri, mandi uang dia dari kepul asap rokok orang-orang. Semakin kaya dia, semakin sakit para perokoknya, yah. Hebat sekali bisnisnya, bisa dapat uang dari asap. Malah konon masuk daftar orang terkaya dunia dia, yah.” Tertawa, lembe di dagunya terlihat bergoyang-goyang.
Aku ikut tertawa, memasang seringai paling top. Lima belas menit tanya-tanya, aku diterima—lupa sisa pembicaraan tentang apa. Disuruh menghadap staf administrasi, diminta menyerahkan fotokopi KTP dan berkas lain. Staf itu bilang gaji per-bulanku, aku kali ini sungguh tulus menyeringai lebar, tertawa ihklas. Gajinya top. Ternyata ijasah SMA-ku sakti mandraguna, atau boleh jadi cara bicaraku amat meyakinkan, atau mungkin riwayat hidupku yang ditulis dengan pulpen warna hitam di atas kertas folio itu nampak mentereng.
“Semoga hari pertama kau membawa keberuntungan di pabrik ini, Borno. Tanggal lahir kau bagus sekali, aura wajah dan tubuhmu positif, semuanya cocok dengan fengshui pabrik.” Esoknya saat datang dengan seragam oranye, pemilik pabrik menepuk-nepuk bahuku. Aku tersenyum tanggung, baru tahu kalau aku diterima bukan karena betapa tingginya kualifikasi yang kumiliki, aku diterima begitu saja karena ada ‘mahkluk’ bernama fengshui.
Dan garis keberuntungan yang kubawa itu ternyata keliru, belum genap hari pertama aku kerja di pabrik karet itu, tiga omprengan padat penumpang merapat ke halaman pabrik, membawa spanduk, menenteng toa, ber-bandana macam serial condor heroes, berjaket, berteriak, berbusa-busa. Dari kisi-kisi pabrik, mengintip, aku menerka, sepertinya mereka sibuk demo soal lingkungan hidup. “Pabrik Membawa Bau!”, “Jangan Buang Limbah Ke Sungai Kami!”, “Usir Pabrik Karet Di Sepanjang Kapuas!” Demikian tulisan di spanduk.
Pemilik pabrik berbaik-hati menemui pendemo, berdialog, bersitegang, keributan kecil terjadi, petugas pabrik sibuk membuat tameng, massa tiga puluh orang itu tiba-tiba menjadi tidak terkendali, berteriak-teriak, melemparkan apa saja didekatnya. Sebelum situasi semakin kacau, penyelia-ku jahil mengeluarkan ember-ember berisi air peras-an dari mesin pembuat lembaran karet, menyuruh kami menyiramkannya ke pendemo itu. Kocar-kacirlah mereka, nampaknya air itu lebih menyeramkan dibanding gas air mata polisi.
“Biasa-lah. Setahun belakangan mereka sudah sering protes, mengirim surat, membuat pernyataan, minta kompensasi, ganti rugi. Mereka bukan orang sini, entah dari mana, menghasut penduduk sekitar pabrik.” Penyelia menepuk-nepuk ujung baju seragam yang terkena cipratan air.
“Mau bagaimana lagi? Dipindahkan begitu saja? Lagipula ada puluhan karyawan berasal dari penduduk sekitar pabrik, tidak semua keberatan. Kau keberatan dengan bau karet?”
Aku tidak berkomentar. Pak Tua pernah bilang, benci atau tidak suka itu relatif ukurannya. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. Kalau perasaan saja bisa menyesuaikan diri begitu hebat, apalagi hidung. Enam bulan bekerja di sana, seperti siklus bulanan, setidaknya enam kali para pendemo itu datang. Kali ini ember-ember air sudah disiapkan di halaman, membuat mereka hanya bisa membentangkan spanduk di pintu gerbang, takut mendekat. Aku tertawa menatap mereka.
Sayangnya, persis di penghujung bulan ke enam, tanpa kabar burung, puluhan buruh mendadak dirumahkan. Mesin penggiling karet berhenti. Pabrik tutup total. Padahal, jujur, aku mulai terbiasa dengan bau busuk karet—meski tidak jatuh cinta.
Jelas pabrik tutup bukan karena fengshui-ku buruk, juga bukan karena aktivis itu, melainkan pemilik pabrik terkena musibah. Saat itu, harga komoditas karet dunia anjlok separuh, macam meteor jatuh, grafiknya turun menghujam bebas. Imbasnya kemana-mana, dua juta petani karet rakyat di seluruh negeri membeli beras saja susah apalagi menyekolahkan anak mereka, pedagang karet memutuskan memarkir kapal, berhenti membeli bantalan karet di pedalaman, pabrik pengolahan terpaksa menanggung biaya produksi lebih tinggi dibanding harga jual, dan ibarat pribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, pemilik pabrik dengan wajah pol kebapakan itu kemudian hari kena tipu. Tiga kali masing-masing sepuluh kontainer terakhirnya yang dikirim ke Eropa tidak dibayar pembeli. Importir-nya kabur membawa dokumen pembayaran.
Pabrik tutup. Aku kehilangan pekerjaan.
“Bukankah kau memang tidak suka bekerja di sana? Tidak usahlah pasang wajah sedih macam itu.” Salah-satu tetangga tertawa, malam-malam saat bermain kartu di balai bambu.
“Yang patut dikasihani itu tauke pabrik. Kudengar dia murah hati sekali dengan penduduk sekitar pabriknya. Bangkrut.” Yang lain menimpali.
“Semua lagi susah memang. Kopi turun, cokelat turun, karet turun, kelapa sawit turun, semua komoditas turun bebas. Hanya harga emas yang terus naik. Dunia katanya lagi reseh-sih.” Tetangga lain, yang suka menyimak berita di televisi memasang wajah prihatin, “Menurut saya yang paling patut dikasihani adalah petani-petani kecil, mereka paling dirugikan.” Sekarang dia berlagak politikus kelas kampung, “Pemerintah harusnya mengambil tindakan. Turunkan juga harga listrik, harga BBM, beras dan keperluan rumah tangga. Itu baru pro-rakyat.” Sekarang dia sudah seperti pengamat ekonomi.
“Kudengar ada lowongan di syahbandar Pontianak, kau cobalah ke sana, Borno.” Salah-satu tetangga berseru.
“Ah paling kau cuma jadi kacung. Disuruh bersih-bersih meja, ngepel lantai, buat minuman, lantas menunduk-nunduk bilang selamat pagi.” Yang lain mengingatkan.
“Tidak apalah kacung, umurnya masih delapan belas, sepuluh tahun bekerja bisalah kau naik pangkat jadi kepala—”
“Ya, kepala kacung.” Yang lain memotong, tertawa.
Aku tidak mendengarkan, membanting kartuku yang sempurna ke tikar pandan. Tetangga lain ber-ah sebal, giliranku yang tertawa sambil menunjuk teko plastik, mereka dengan wajah masam terpaksa menenggak gelas air putih berikutnya sampai kembung, hukuman kalah.
Bermula dari percakapan sambil main kartu bermandikan cahaya bulan malam dua belas, urusan syahbandar Pontianak ini ternyata panjang. Itu pekerjaan keduaku, kusut seperti benang berpintal.
***
Gang Di Tepian Kapuas
“Berangkat kerja, Kawan?” Suara khas itu menyapa.
Andi, teman seperjuanganku lulus SMA dulu (dengan NEM nyaris tak sampai standar Pemerintah berkuasa), sepagi ini, bukan main, sudah berkutat oli dan jelaga mesin. Di salah-satu pojokan gang, dia bekerja pada bapaknya yang punya bengkel motor sekaligus cuci salju. Jangan bayangkan seperti bengkel-bengkel keren authorized seperti di jalan protokol Pontianak, bapak Andi yang seratus persen Bugis hanya memanfaatkan depan rumah sempit mereka. Bekas minyak pelumas tumpah, serakan busi dan perkakas menghiasi, hitam-hitam di dinding menjadi grafiti, umbul-umbul kusam pemberian distributor oli sebagai penanda bengkel, dan etalase seadanya berisi spare-part. Sementara yang disebutnya dengan snow-wash itu ya cuma modal satu mesin pompa ban plus dikasih deterjen banyak-banyak. Mana tahu penduduk gang ini beda antara salju dan busa.
‘’Ya-lah.” Aku mengangguk, berhenti sebentar, memperhatikan serakan onderdil motor yang dilepas. Kasus Andi pagi ini menarik nian, satu motor gagah berwarna hitam terkapar di depannya.
“Sudah berapa kali kau gonta-ganti pekerjaan, Borno. Macam tidak ada tempat yang bisa membuat kau betah saja.” Bapak Andi yang masih sarungan, mengunyah pisang goreng, mengawasi anaknya bekerja, bertanya menyeringai. Aku mengangkat bahu, sebal menjawabnya. Seluruh gang juga tahu, kalau ada penghargaan bagi orang yang suka gonta-ganti pekerjaan, maka dua tahun terakhir aku pemenangnya. Kadang jadi bahan gurauan tidak lucu. Hanya Pak Tua yang berseloroh santai, “Itu artinya kau anti-thesis, Borno. Kata siapa mencari pekerjaan di negeri ini susah?” Menurut Ibu, “Sepanjang kau tidak berharap macam-macam, bekerja sebaik mungkin, selalu ihklas setiap pagi berangkat, senantiasa bersyukur setiap sore pulang, maka kau tidak akan kekurangan tempat bekerja, Borno. Jangan macam orang kebanyakan, selalu mengeluh, selalu sirik dengan pekerjaan orang lain, padahal pekerjaannya sudah baik sekali. Sayang sekali, sudah gajinya terbatas, mengeluh pula. Dunia tak dapat, akherat digadaikan dengan keluhan.”
“Ini motor siapa?” Aku ingin tahu.
“Motor kepala kampung. Baru dapat kemarin. Dikasih temannya dari Kuching, murah katanya beli di Malaysia. Tapi kondisinya rusak.” Andi menyeka pelipis, membuat tambah hitam dahinya. Aku bergumam, mengangguk. Sejenak memperhatikan, teringat sesuatu, bergegas melanjutkan langkah, aku harus tiba di tempat kerjaku sesegera mungkin. Pamit pada bapak Andi yang sekarang sibuk menepis-nepis ujung sarung—mungkin ada laba-laba atau serangga jahil masuk. Bapak Andi benar, dua tahun ini, meski bau, tempat bekerja paling lama bagiku di pabrik karet itu. Enam bulan. Yang lain satu-dua bulan saja.
“Kau tidak merokok, yah?” Itu pertanyaan pemilik pabrik karet saat mewawancariku sehari sebelum masuk kerja. China separuh baya, rambutnya sepertiga menguban, perutnya separuh gendut, tampangnya pol kebapakan.
Aku menggeleng.
“Bagus. Di sini tidak ada yang merokok, yah. Bukan tidak boleh, ini bukan pom bensin, boleh-boleh saja, yah. Tapi saya tidak suka ada yang merokok, yah.”
Aku mengangguk-angguk, sok setuju, sok paham.
“Namamu siapa tadi, yah? Borneo? Oh, Borno. Kau tahu, aku pernah punya pabrik tebu di Jawa Timur, tidak jauh dari pabrik rokok besar di sana, pemiliknya taipan paling kaya di seluruh negeri, mandi uang dia dari kepul asap rokok orang-orang. Semakin kaya dia, semakin sakit para perokoknya, yah. Hebat sekali bisnisnya, bisa dapat uang dari asap. Malah konon masuk daftar orang terkaya dunia dia, yah.” Tertawa, lembe di dagunya terlihat bergoyang-goyang.
Aku ikut tertawa, memasang seringai paling top. Lima belas menit tanya-tanya, aku diterima—lupa sisa pembicaraan tentang apa. Disuruh menghadap staf administrasi, diminta menyerahkan fotokopi KTP dan berkas lain. Staf itu bilang gaji per-bulanku, aku kali ini sungguh tulus menyeringai lebar, tertawa ihklas. Gajinya top. Ternyata ijasah SMA-ku sakti mandraguna, atau boleh jadi cara bicaraku amat meyakinkan, atau mungkin riwayat hidupku yang ditulis dengan pulpen warna hitam di atas kertas folio itu nampak mentereng.
“Semoga hari pertama kau membawa keberuntungan di pabrik ini, Borno. Tanggal lahir kau bagus sekali, aura wajah dan tubuhmu positif, semuanya cocok dengan fengshui pabrik.” Esoknya saat datang dengan seragam oranye, pemilik pabrik menepuk-nepuk bahuku. Aku tersenyum tanggung, baru tahu kalau aku diterima bukan karena betapa tingginya kualifikasi yang kumiliki, aku diterima begitu saja karena ada ‘mahkluk’ bernama fengshui.
Dan garis keberuntungan yang kubawa itu ternyata keliru, belum genap hari pertama aku kerja di pabrik karet itu, tiga omprengan padat penumpang merapat ke halaman pabrik, membawa spanduk, menenteng toa, ber-bandana macam serial condor heroes, berjaket, berteriak, berbusa-busa. Dari kisi-kisi pabrik, mengintip, aku menerka, sepertinya mereka sibuk demo soal lingkungan hidup. “Pabrik Membawa Bau!”, “Jangan Buang Limbah Ke Sungai Kami!”, “Usir Pabrik Karet Di Sepanjang Kapuas!” Demikian tulisan di spanduk.
Pemilik pabrik berbaik-hati menemui pendemo, berdialog, bersitegang, keributan kecil terjadi, petugas pabrik sibuk membuat tameng, massa tiga puluh orang itu tiba-tiba menjadi tidak terkendali, berteriak-teriak, melemparkan apa saja didekatnya. Sebelum situasi semakin kacau, penyelia-ku jahil mengeluarkan ember-ember berisi air peras-an dari mesin pembuat lembaran karet, menyuruh kami menyiramkannya ke pendemo itu. Kocar-kacirlah mereka, nampaknya air itu lebih menyeramkan dibanding gas air mata polisi.
“Biasa-lah. Setahun belakangan mereka sudah sering protes, mengirim surat, membuat pernyataan, minta kompensasi, ganti rugi. Mereka bukan orang sini, entah dari mana, menghasut penduduk sekitar pabrik.” Penyelia menepuk-nepuk ujung baju seragam yang terkena cipratan air.
“Mau bagaimana lagi? Dipindahkan begitu saja? Lagipula ada puluhan karyawan berasal dari penduduk sekitar pabrik, tidak semua keberatan. Kau keberatan dengan bau karet?”
Aku tidak berkomentar. Pak Tua pernah bilang, benci atau tidak suka itu relatif ukurannya. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. Kalau perasaan saja bisa menyesuaikan diri begitu hebat, apalagi hidung. Enam bulan bekerja di sana, seperti siklus bulanan, setidaknya enam kali para pendemo itu datang. Kali ini ember-ember air sudah disiapkan di halaman, membuat mereka hanya bisa membentangkan spanduk di pintu gerbang, takut mendekat. Aku tertawa menatap mereka.
Sayangnya, persis di penghujung bulan ke enam, tanpa kabar burung, puluhan buruh mendadak dirumahkan. Mesin penggiling karet berhenti. Pabrik tutup total. Padahal, jujur, aku mulai terbiasa dengan bau busuk karet—meski tidak jatuh cinta.
Jelas pabrik tutup bukan karena fengshui-ku buruk, juga bukan karena aktivis itu, melainkan pemilik pabrik terkena musibah. Saat itu, harga komoditas karet dunia anjlok separuh, macam meteor jatuh, grafiknya turun menghujam bebas. Imbasnya kemana-mana, dua juta petani karet rakyat di seluruh negeri membeli beras saja susah apalagi menyekolahkan anak mereka, pedagang karet memutuskan memarkir kapal, berhenti membeli bantalan karet di pedalaman, pabrik pengolahan terpaksa menanggung biaya produksi lebih tinggi dibanding harga jual, dan ibarat pribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, pemilik pabrik dengan wajah pol kebapakan itu kemudian hari kena tipu. Tiga kali masing-masing sepuluh kontainer terakhirnya yang dikirim ke Eropa tidak dibayar pembeli. Importir-nya kabur membawa dokumen pembayaran.
Pabrik tutup. Aku kehilangan pekerjaan.
“Bukankah kau memang tidak suka bekerja di sana? Tidak usahlah pasang wajah sedih macam itu.” Salah-satu tetangga tertawa, malam-malam saat bermain kartu di balai bambu.
“Yang patut dikasihani itu tauke pabrik. Kudengar dia murah hati sekali dengan penduduk sekitar pabriknya. Bangkrut.” Yang lain menimpali.
“Semua lagi susah memang. Kopi turun, cokelat turun, karet turun, kelapa sawit turun, semua komoditas turun bebas. Hanya harga emas yang terus naik. Dunia katanya lagi reseh-sih.” Tetangga lain, yang suka menyimak berita di televisi memasang wajah prihatin, “Menurut saya yang paling patut dikasihani adalah petani-petani kecil, mereka paling dirugikan.” Sekarang dia berlagak politikus kelas kampung, “Pemerintah harusnya mengambil tindakan. Turunkan juga harga listrik, harga BBM, beras dan keperluan rumah tangga. Itu baru pro-rakyat.” Sekarang dia sudah seperti pengamat ekonomi.
“Kudengar ada lowongan di syahbandar Pontianak, kau cobalah ke sana, Borno.” Salah-satu tetangga berseru.
“Ah paling kau cuma jadi kacung. Disuruh bersih-bersih meja, ngepel lantai, buat minuman, lantas menunduk-nunduk bilang selamat pagi.” Yang lain mengingatkan.
“Tidak apalah kacung, umurnya masih delapan belas, sepuluh tahun bekerja bisalah kau naik pangkat jadi kepala—”
“Ya, kepala kacung.” Yang lain memotong, tertawa.
Aku tidak mendengarkan, membanting kartuku yang sempurna ke tikar pandan. Tetangga lain ber-ah sebal, giliranku yang tertawa sambil menunjuk teko plastik, mereka dengan wajah masam terpaksa menenggak gelas air putih berikutnya sampai kembung, hukuman kalah.
Bermula dari percakapan sambil main kartu bermandikan cahaya bulan malam dua belas, urusan syahbandar Pontianak ini ternyata panjang. Itu pekerjaan keduaku, kusut seperti benang berpintal.
***
Kamis, 12 November 2015
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 3: ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’
Gang Di Tepian Kapuas
Kalian tahu kenapa kota ini dinamakan Pontianak?
Kupikir Pak Tua dulu bergurau, ternyata tidak, cobalah tengok seluruh peta di dunia, lihat nama kota-kota paling eksotis dan terkenal sekalipun, tidak ada yang seganjil nama kota kami. Bahkan kota muasal cerita drakula, manusia srigala, atau hantu China yang suka loncat-loncat seperti yang kulihat di televisi, tidak ada yang dinamakan kota ‘Vampire’ atau kota ‘Drakula’. Apatah kota yang bernama ‘Pocong’, ‘Sundal Bolong’, seperti judul film-film murahan yang banyak beredar belakangan. Tidak ada yang mau memakai namanya—bahkan buat nama sepotong jalan saja tidak. Tetapi kota ini dinamakan Pontianak. Siapa itu pontianak—kalaulah dia bisa dan boleh disebut ‘siapa’? Pontianak adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Seramnya beda-beda tipis dengan kuntil anak.
Pendiri kota ini, seloroh Pak Tua suatu ketika, seorang pemuda yang tentulah pemuda perkasa turunan raja-raja asli, harus mengalahkan si pontianak ini saat membangun istananya. Menggidikkan mendengar cerita lengkap Pak Tua, apalagi dibumbu-bumbui tentang ibu-ibu hamil, kengerian si pontianak menculik bayi-bayi, malam-malam gelap penuh teror, dan sebagainya. Nah, karena sang pemuda ini bukan saja sakti mandraguna, juga beradab dan elok perangainya, dia dengan senang hati memberikan nama kota ini dengan nama musuh besarnya itu, ‘pontianak’—bukan namanya sendiri apalagi nama leluhurnya. Mana ada coba perangai se-terpuji itu? Aku terpesona kehabisan tanya, Pak Tua sudah kembali asyik memeriksa onderdil mesin perahu tempel. Jadilah kota indah kami bernama demikian.
Pagi ini, entah pagi ke berapa ratus ribu sejak si pontianak bertekuk lutut, kota kami terlihat sibuk—semakin sibuk saja malah. Aku menguap, menggeliat nikmat, mengucek mata, bilang pamit pada ibu yang masih tiduran di dipan. Ibu mengangguk, lagi tidak enak badan, tadi hanya sempat masak sarapan seadanya lepas bangun jam empat shubuh. Aku menuju mulut gang, jalan selebar rentangan tangan pria dewasa yang sekarang dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja kantoran, ibu-ibu, bapak-bapak. Motor sekali, dua kali, tiga kali, sebenarnya berkali-kali memaksa menepi. Tidak sabaran menyalip pejalan kaki di gang ini, padahal plang besar berbiaya ratusan ribu dari kepala kampung jelas-jelas terpasang di ujung gang, ‘Dilarang Ngebut’. Mana peduli mereka, juga tidak pedulinya mereka dengan plang ‘Pukul 21.00, motor harap dituntun’. Untung rumah papan terapung Ibu jauh dari gang ini, jadi tidak terdengar raungan biker yang kurang sopan malam-malam.
Dari gang ini, belok kanan sana, akan menuju jalan besar yang telah dipenuhi kendaraan, mengepul asapnya, angkutan umum yang mobilnya sudah tua, terkentut berisik. Pedagang asongan, penjaja koran pagi, berteriak menawarkan barang, berlari-lari kecil. Aku terus berjalan lurus menelusuri gang sepanjang Kapuas. Rumah sempit memadati tepian sungai. Menemukan anak-anak yang asyik mandi, di baskom, pakai gayung, tidak loncat ke sungai. Ibu-ibu yang cuek mencuci di air keruh. Beberapa tetangga menyapa, aku mengangguk samar.
“Berangkat kerja, Borno?”
Aku nyengir, mengiyakan.
“Mana seragam keren kau itu?” Menggoda.
Aku tertawa.
“Gagah sekali kau, Borno. Belum mandi saja sudah se-gagah ini.” Tetangga bermulut usil lain, yang pagi-pagi sambil ngopi, asyik nongkrong di depan rumah kayunya ikut berkomentar.
“Tutup mulut.” Aku pura-pura mengacungkan tinju.
Semua orang punya pekerjaan, bukan? Aku juga. Apa kata pujangga, ‘hidup adalah bekerja, kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta’. Atau apa kata kitab suci, ‘tidak satupun mahkluk melata di atas dunia yang tidak dijamin rezekinya’, tentu ayat menakjubkan itu di luar konteks bagi si pemalas.
Lepas Bapak meninggal, ajaib, aku tetap bertahan sekolah hingga usia delapan belas. Jangan tanya dari mana biayanya, Ibu bekerja keras. Sebulan lulus dari SMA, salah-satu pabrik pengelolaan karet yang banyak terdapat di tepian Kapuas menerimaku. Itu tempat bekerja pertamaku. Dikasih seragam berwarna oranye. Gagah memang, Ibu sampai tertawa tertahan melihatku siap berangkat pagi-pagi. Bagi Ibu, tertawa tertahan adalah ekspresi rasa senang tertingginya, sama levelnya dengan atlet terjun payung, yang loncat dari pintu pesawat sambil berteriak ‘geronimo’. Aku ikut tertawa bersama Ibu.
Sorenya saat pulang, Ibu tertawa lagi, kali itu aku hanya nyengir. Bagi Ibu, tertawa tertahan juga ekspresi rasa iba tertingginya. Kenapa? Tidak masalah tubuhku banjir keringat, membuat seragam oranye-nya lusuh nan kusam, namanya juga menjadi buruh pabrik, toh sejak kecil aku sudah biasa bekerja disuruh-suruh. Yang jadi soal adalah bau badanku. Tidak terkatakan. Kalian pernah datang ke pabrik pengelolaan karet? Pekerjaan di sana mudah saja, bal-bal karet (ada yang berbentuk kotak, seperti bantal, lonjong, bundar) hasil sadapan petani bercampur cuka pembentuk bantalan karet, dikirim ke pabrik lewat perahu-perahu. Jauh sekali kapal-kapal pengirim sadapan karet berhiliran dari kebun rakyat di hulu-hulu Kapuas. Lantas mesin pabrik akan mengolahnya menjadi lembaran-lembaran tipis belasan meter, lembaran ini kemudian dikeringkan menjuntai dari atap gudang tinggi-tinggi macam menjemur kain selendang, diangin-anginkan. Setelah kering, lembaran karet dimasukkan ke dalam kontainer, diangkut oleh truk besar, di bawa ke pelabuhan, menuju pabrik berikutnya.
“Oh itu, ada yang diekspor, China, Eropa, Amerika, ada juga beberapa kapal yang menuju Surabaya atau Jakarta.” Penyelia kerjaku menjelaskan.
“Oh itu, kita hanya mengolah karet menjadi setengah mentah, Borno. Bukan urusan kita berikutnya jadi apa.” Penyelia itu mulai terganggu.
“Oh itu, ada yang jadi sendal jepit, botol-botol, mainan, kabel, roda mobil, bahkan pesawat terbang ulang-alik.” Sedikit sebal menjawab.
“Hah, pesawat terbang?” Aku ingin tahu.
“Bahkan celana dalam yang kau pakai sekarang saja itu salah-satunya dibuat dari gulungan karet muasal pabrik ini.” Penyelia itu melotot mengusirku, urus pekerjaan kau segera.
Aku berhenti bertanya, kembali berpeluh menarik lembaran karet yang masih basah dari gilingan mesin. Bau, tentu saja, itulah soal paling memberatkan bekerja di pabrik ini. Hasil sadapan bercampur cukanya saja sudah bau, apalagi setelah diolah dan diberi cairan kimia berikutnya, bau sekali. Radius ratusan meter baunya sudah menyengat, dan aku persis berada di hadapannya. Masker kain tiga lapis tidak mempan, partikel bau itu menusuk membuat tersengal. Maka seragam oranye itu bercampur bau sudah tidak ada gagah-gagahnya lagi ketika aku pulang.
“Tidak masalah, Borno. Semua pekerjaan baik.” Ibu membesarkan hati.
“Borno tahu, Bu. Tetapi tidak semua pekerjaan itu bau.” Aku menggerutu (bukan pada Ibu, mana boleh aku menggerutu padanya, melainkan pada ember cucianku).
“Haiya, kau jangan dekat-dekat toko kelontongku.” Koh Acung, sebaliknya, melotot mengecilkan hati.
Aku bersungut-sungut melempar uang, dan dia sebaliknya sambil tertawa melempar bungkusan gula pesanan Ibu.
“Woi, kau jauh-jauh sana. Macam mana ini, warungku bisa sepi pengunjung empat puluh hari empat puluh malam.” Cik Tulani ikut-ikutan menyebalkan—padahal aku Cuma lewat saja di depan warungnya.
Hanya Pak Tua yang cukup nyengir, santai mempersilahkanku naik ke perahu tempel, aku menumpang menyeberangi Kapuas, pulang ke rumah.
“Harusnya ada peraturan naik sepit.” Sayangnya tidak untuk dua penumpang, dua gadis seumuranku, duduk di dekatku berbisik-bisik, melirik-lirik.
“Benar itu. Mana tahan aku. Mual.” Menunjuk-nunjuk.
Kalau saja tidak sedang di atas perahu tempel yang melaju membelah Kapuas, mau rasanya aku menimpuk dua gadis ini dengan gulungan kertas. Pak Tua yang sedang mengendalikan motor perahu tertawa, memicingkan mata, bersabarlah, Borno, sepuluh menit lagi sepit merapat. Aku mendengus mengkal, melotot pada dua gadis yang sekarang memalingkan wajah sambil ekspresif menutup hidung.
Itulah nasib bekerja di pabrik karet, pekerjaan pertamaku lulus SMA dua tahun lalu. Di luar soal bau, bekerja di sana menyenangkan. Pemilik pabrik memperlakukan kami dengan baik. Gaji dan bonus mengalir, sebulan sekali ada pemeriksaan kesehatan, kadang ada acara makan siang bersama gratis di kantin pabrik, belum lagi sembako gratis dua bulan sekali. Top.
Sayang, enam bulan di sana, aku dipecat, bersama ratusan karyawan lain.
Gang Di Tepian Kapuas
Kalian tahu kenapa kota ini dinamakan Pontianak?
Kupikir Pak Tua dulu bergurau, ternyata tidak, cobalah tengok seluruh peta di dunia, lihat nama kota-kota paling eksotis dan terkenal sekalipun, tidak ada yang seganjil nama kota kami. Bahkan kota muasal cerita drakula, manusia srigala, atau hantu China yang suka loncat-loncat seperti yang kulihat di televisi, tidak ada yang dinamakan kota ‘Vampire’ atau kota ‘Drakula’. Apatah kota yang bernama ‘Pocong’, ‘Sundal Bolong’, seperti judul film-film murahan yang banyak beredar belakangan. Tidak ada yang mau memakai namanya—bahkan buat nama sepotong jalan saja tidak. Tetapi kota ini dinamakan Pontianak. Siapa itu pontianak—kalaulah dia bisa dan boleh disebut ‘siapa’? Pontianak adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Seramnya beda-beda tipis dengan kuntil anak.
Pendiri kota ini, seloroh Pak Tua suatu ketika, seorang pemuda yang tentulah pemuda perkasa turunan raja-raja asli, harus mengalahkan si pontianak ini saat membangun istananya. Menggidikkan mendengar cerita lengkap Pak Tua, apalagi dibumbu-bumbui tentang ibu-ibu hamil, kengerian si pontianak menculik bayi-bayi, malam-malam gelap penuh teror, dan sebagainya. Nah, karena sang pemuda ini bukan saja sakti mandraguna, juga beradab dan elok perangainya, dia dengan senang hati memberikan nama kota ini dengan nama musuh besarnya itu, ‘pontianak’—bukan namanya sendiri apalagi nama leluhurnya. Mana ada coba perangai se-terpuji itu? Aku terpesona kehabisan tanya, Pak Tua sudah kembali asyik memeriksa onderdil mesin perahu tempel. Jadilah kota indah kami bernama demikian.
Pagi ini, entah pagi ke berapa ratus ribu sejak si pontianak bertekuk lutut, kota kami terlihat sibuk—semakin sibuk saja malah. Aku menguap, menggeliat nikmat, mengucek mata, bilang pamit pada ibu yang masih tiduran di dipan. Ibu mengangguk, lagi tidak enak badan, tadi hanya sempat masak sarapan seadanya lepas bangun jam empat shubuh. Aku menuju mulut gang, jalan selebar rentangan tangan pria dewasa yang sekarang dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja kantoran, ibu-ibu, bapak-bapak. Motor sekali, dua kali, tiga kali, sebenarnya berkali-kali memaksa menepi. Tidak sabaran menyalip pejalan kaki di gang ini, padahal plang besar berbiaya ratusan ribu dari kepala kampung jelas-jelas terpasang di ujung gang, ‘Dilarang Ngebut’. Mana peduli mereka, juga tidak pedulinya mereka dengan plang ‘Pukul 21.00, motor harap dituntun’. Untung rumah papan terapung Ibu jauh dari gang ini, jadi tidak terdengar raungan biker yang kurang sopan malam-malam.
Dari gang ini, belok kanan sana, akan menuju jalan besar yang telah dipenuhi kendaraan, mengepul asapnya, angkutan umum yang mobilnya sudah tua, terkentut berisik. Pedagang asongan, penjaja koran pagi, berteriak menawarkan barang, berlari-lari kecil. Aku terus berjalan lurus menelusuri gang sepanjang Kapuas. Rumah sempit memadati tepian sungai. Menemukan anak-anak yang asyik mandi, di baskom, pakai gayung, tidak loncat ke sungai. Ibu-ibu yang cuek mencuci di air keruh. Beberapa tetangga menyapa, aku mengangguk samar.
“Berangkat kerja, Borno?”
Aku nyengir, mengiyakan.
“Mana seragam keren kau itu?” Menggoda.
Aku tertawa.
“Gagah sekali kau, Borno. Belum mandi saja sudah se-gagah ini.” Tetangga bermulut usil lain, yang pagi-pagi sambil ngopi, asyik nongkrong di depan rumah kayunya ikut berkomentar.
“Tutup mulut.” Aku pura-pura mengacungkan tinju.
Semua orang punya pekerjaan, bukan? Aku juga. Apa kata pujangga, ‘hidup adalah bekerja, kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta’. Atau apa kata kitab suci, ‘tidak satupun mahkluk melata di atas dunia yang tidak dijamin rezekinya’, tentu ayat menakjubkan itu di luar konteks bagi si pemalas.
Lepas Bapak meninggal, ajaib, aku tetap bertahan sekolah hingga usia delapan belas. Jangan tanya dari mana biayanya, Ibu bekerja keras. Sebulan lulus dari SMA, salah-satu pabrik pengelolaan karet yang banyak terdapat di tepian Kapuas menerimaku. Itu tempat bekerja pertamaku. Dikasih seragam berwarna oranye. Gagah memang, Ibu sampai tertawa tertahan melihatku siap berangkat pagi-pagi. Bagi Ibu, tertawa tertahan adalah ekspresi rasa senang tertingginya, sama levelnya dengan atlet terjun payung, yang loncat dari pintu pesawat sambil berteriak ‘geronimo’. Aku ikut tertawa bersama Ibu.
Sorenya saat pulang, Ibu tertawa lagi, kali itu aku hanya nyengir. Bagi Ibu, tertawa tertahan juga ekspresi rasa iba tertingginya. Kenapa? Tidak masalah tubuhku banjir keringat, membuat seragam oranye-nya lusuh nan kusam, namanya juga menjadi buruh pabrik, toh sejak kecil aku sudah biasa bekerja disuruh-suruh. Yang jadi soal adalah bau badanku. Tidak terkatakan. Kalian pernah datang ke pabrik pengelolaan karet? Pekerjaan di sana mudah saja, bal-bal karet (ada yang berbentuk kotak, seperti bantal, lonjong, bundar) hasil sadapan petani bercampur cuka pembentuk bantalan karet, dikirim ke pabrik lewat perahu-perahu. Jauh sekali kapal-kapal pengirim sadapan karet berhiliran dari kebun rakyat di hulu-hulu Kapuas. Lantas mesin pabrik akan mengolahnya menjadi lembaran-lembaran tipis belasan meter, lembaran ini kemudian dikeringkan menjuntai dari atap gudang tinggi-tinggi macam menjemur kain selendang, diangin-anginkan. Setelah kering, lembaran karet dimasukkan ke dalam kontainer, diangkut oleh truk besar, di bawa ke pelabuhan, menuju pabrik berikutnya.
“Oh itu, ada yang diekspor, China, Eropa, Amerika, ada juga beberapa kapal yang menuju Surabaya atau Jakarta.” Penyelia kerjaku menjelaskan.
“Oh itu, kita hanya mengolah karet menjadi setengah mentah, Borno. Bukan urusan kita berikutnya jadi apa.” Penyelia itu mulai terganggu.
“Oh itu, ada yang jadi sendal jepit, botol-botol, mainan, kabel, roda mobil, bahkan pesawat terbang ulang-alik.” Sedikit sebal menjawab.
“Hah, pesawat terbang?” Aku ingin tahu.
“Bahkan celana dalam yang kau pakai sekarang saja itu salah-satunya dibuat dari gulungan karet muasal pabrik ini.” Penyelia itu melotot mengusirku, urus pekerjaan kau segera.
Aku berhenti bertanya, kembali berpeluh menarik lembaran karet yang masih basah dari gilingan mesin. Bau, tentu saja, itulah soal paling memberatkan bekerja di pabrik ini. Hasil sadapan bercampur cukanya saja sudah bau, apalagi setelah diolah dan diberi cairan kimia berikutnya, bau sekali. Radius ratusan meter baunya sudah menyengat, dan aku persis berada di hadapannya. Masker kain tiga lapis tidak mempan, partikel bau itu menusuk membuat tersengal. Maka seragam oranye itu bercampur bau sudah tidak ada gagah-gagahnya lagi ketika aku pulang.
“Tidak masalah, Borno. Semua pekerjaan baik.” Ibu membesarkan hati.
“Borno tahu, Bu. Tetapi tidak semua pekerjaan itu bau.” Aku menggerutu (bukan pada Ibu, mana boleh aku menggerutu padanya, melainkan pada ember cucianku).
“Haiya, kau jangan dekat-dekat toko kelontongku.” Koh Acung, sebaliknya, melotot mengecilkan hati.
Aku bersungut-sungut melempar uang, dan dia sebaliknya sambil tertawa melempar bungkusan gula pesanan Ibu.
“Woi, kau jauh-jauh sana. Macam mana ini, warungku bisa sepi pengunjung empat puluh hari empat puluh malam.” Cik Tulani ikut-ikutan menyebalkan—padahal aku Cuma lewat saja di depan warungnya.
Hanya Pak Tua yang cukup nyengir, santai mempersilahkanku naik ke perahu tempel, aku menumpang menyeberangi Kapuas, pulang ke rumah.
“Harusnya ada peraturan naik sepit.” Sayangnya tidak untuk dua penumpang, dua gadis seumuranku, duduk di dekatku berbisik-bisik, melirik-lirik.
“Benar itu. Mana tahan aku. Mual.” Menunjuk-nunjuk.
Kalau saja tidak sedang di atas perahu tempel yang melaju membelah Kapuas, mau rasanya aku menimpuk dua gadis ini dengan gulungan kertas. Pak Tua yang sedang mengendalikan motor perahu tertawa, memicingkan mata, bersabarlah, Borno, sepuluh menit lagi sepit merapat. Aku mendengus mengkal, melotot pada dua gadis yang sekarang memalingkan wajah sambil ekspresif menutup hidung.
Itulah nasib bekerja di pabrik karet, pekerjaan pertamaku lulus SMA dua tahun lalu. Di luar soal bau, bekerja di sana menyenangkan. Pemilik pabrik memperlakukan kami dengan baik. Gaji dan bonus mengalir, sebulan sekali ada pemeriksaan kesehatan, kadang ada acara makan siang bersama gratis di kantin pabrik, belum lagi sembako gratis dua bulan sekali. Top.
Sayang, enam bulan di sana, aku dipecat, bersama ratusan karyawan lain.
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 2: ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah'
Prolog - 2
Usia dua belas, aku mengalami hari terburuk dalam hidupku.
Bapak tercinta, nelayan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga kami entah apa pasal terjatuh dari perahu saat melaut. Jatuh bukan masalah, bukan nelayan kalau tidak pernah jatuh, lagipula Bapak bisa berenang semalaman kalau dia mau. Badai juga tidak masalah, berpuluh tahun jadi pelaut, Bapak mewarisi kepandaian melewati hujan badai secara turun-temurun. Dikepung hiu buas, ikan pari, atau binatang besar lainnya juga hal biasa. Bapak lebih dari cakap mengatasinya. Namanya ubur-ubur, mahkluk transparan nan kecil, lebih lembut dari agar-agar itulah pelakunya. Ubur-uburlah yang mengakhiri semuanya. Bapak jatuh, tersengat belalai hewan yang bagi kebanyakan orang tidak penting, bahkan tidak tahu betapa mematikan. Sengatan yang membuatnya kejang seketika, dan nelayan lain yang menyertai Bapak tahu, hanya soal waktu detak jantung Bapak terhenti.
Ibu membangunkanku, pagi buta, yang kenapa disebut buta, karena kalian bisa jatuh tersuruk-suruk di jalanan gelap, menumpang perahu tempel Pak Tua, ditemani Cik Tulani dan Koh Acung, kami bergegas menyeberangi sungai Kapuas, memaksa mobil omprengan pengangkut sayur ditumpangi, lantas berlari-lari kecil menuju rumah sakit daerah pontianak.
Lorong rumah sakit lengang, menyisakan perawat yang menguap dan beberapa keluarga pasien menunggui kerabatnya. Ibu dan Pak Tua masuk ke dalam ruangan gawat darurat, mendengarkan penjelasan dokter. Cik dan Koh bersama nelayan yang pergi melaut bersama Bapak berdiri di ujung lorong, mendesah resah, berbisik.
Aku duduk menjeplak.
Menatap kosong petak keramik putih, dinding putih dan lampu neon. Bau obat-obatan terbang melintasi kisi-kisi. Beberapa perawat dan sepertinya dokter menyusul masuk ke dalam ruang gawat darurat. Tampang mereka bukan kabar baik.
Di depanku tiba-tiba sudah berdiri seorang gadis kecil, seumuranku. Aku tidak peduli, mungkin anggota keluarga pasien lain. Gadis itu menatapku, lamat-lamat. Aku melirik selintas, rambutnya di kepang dua, wajahnya China, matanya redup oleh kesedihan, ia sama cemasnya denganku. Bagian otakku yang biasanya dipenuhi rasa ingin tahu sedang malas bekerja. Aku tetap abai.
Sial, gadis itu malah ikut duduk menjeplak, sambil terus menatapku.
Pernah kalian diperhatikan seperti tontonan yang menarik? Aku belum, baru kali itu. Setengah menit, aku mulai jengkel. Ikut menatapnya, melipat dahi. Tetapi dia tetap memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut, seperti sedang menatap makhluk dari galaksi lain.
Satu menit, aku melotot, “Apa?”
Gadis itu mengangkat bahunya, menggeleng. Lantas kenapa kau sibuk melihatiku? Kurang lebih begitu ekspresi wajah sebalku, terganggu. Gadis kecil itu tidak bersuara. Sebelum aku sempat mengusirnya, Cik Tulani berteriak memanggil, menyuruhku masuk ke ruang gawat darurat.
Aku segera lupa kejadian di lorong rumah sakit. Rasa cemasku berubah menjadi beribu perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Dokter menghela nafas, bilang tidak ada solusinya. Ibu tertunduk mendekap bahuku. Dokter menjelaskan beberapa hal lagi, juga disertai penjelasan Ibu.
Astaga! Bukan kabar tidak ada lagi jalan keluar yang membuatku tiba-tiba sesak. Tetapi kabar, entah apa yang ada di kepala Bapak, sebelum tubuhnya benar-benar berhenti bekerja, dia ternyata menyetujui hal paling gila yang pernah kupikirkan. Tidak jauh dari bangsal gawat darurat itu, terkulai lemah seorang pasien gagal jantung. Berbulan-bulan mencari donor tidak bertemu. Beberapa menit lalu Dokter menjelaskan situasi dengan cepat, Bapak mengangguk lemah, menyetujui.
“Bapak belum mati!” Aku berteriak marah.
“Bapak kau tahu persis apa yang dilakukan, Borno.” Ibu bersimbah air-mata memelukku erat-erat.
“Bapak belum mati! Kenapa dadanya dibelah!” Aku berusaha menyibak tangan Ibu.
“Secara klinis sudah meninggal.” Itu penjelasan singkat dokter beberapa detik setelah melihat garis lurus di mesin, mendesah resah, memerintahkan tim operasi mulai bekerja.
“Bapak belum matiiii! Dia bisa sadar kapan saja.” Aku loncat, berusaha menggedor pintu ruangan operasi, memaksa masuk. Cik Tulani, Koh Acung dan Pak Tua bergegas membantu Ibu menahanku.
“Lepaskan! Bapak belum matiiii!” Aku beringas, berusaha memukul.
Tenaga mereka jauh lebih besar, satu menit, aku terkulai menyerah.
Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit beberapa jam kemudian, terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku, Bapak menunaikan kebaikan terakhir. Kalian tahu, meski bersahaja, Bapak adalah orang terbaik di seluruh Pontianak yang pernah kukenal. Aku tidak tahu, apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal, atau pisau bedah dokter? Dia boleh jadi masih bisa siuman, diselamatkan, bukan? Mukjijat bisa datang kapan saja, bukan?
Umurku dua belas, aku tidak pernah tahu jawabannya.
Prolog - 2
Usia dua belas, aku mengalami hari terburuk dalam hidupku.
Bapak tercinta, nelayan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga kami entah apa pasal terjatuh dari perahu saat melaut. Jatuh bukan masalah, bukan nelayan kalau tidak pernah jatuh, lagipula Bapak bisa berenang semalaman kalau dia mau. Badai juga tidak masalah, berpuluh tahun jadi pelaut, Bapak mewarisi kepandaian melewati hujan badai secara turun-temurun. Dikepung hiu buas, ikan pari, atau binatang besar lainnya juga hal biasa. Bapak lebih dari cakap mengatasinya. Namanya ubur-ubur, mahkluk transparan nan kecil, lebih lembut dari agar-agar itulah pelakunya. Ubur-uburlah yang mengakhiri semuanya. Bapak jatuh, tersengat belalai hewan yang bagi kebanyakan orang tidak penting, bahkan tidak tahu betapa mematikan. Sengatan yang membuatnya kejang seketika, dan nelayan lain yang menyertai Bapak tahu, hanya soal waktu detak jantung Bapak terhenti.
Ibu membangunkanku, pagi buta, yang kenapa disebut buta, karena kalian bisa jatuh tersuruk-suruk di jalanan gelap, menumpang perahu tempel Pak Tua, ditemani Cik Tulani dan Koh Acung, kami bergegas menyeberangi sungai Kapuas, memaksa mobil omprengan pengangkut sayur ditumpangi, lantas berlari-lari kecil menuju rumah sakit daerah pontianak.
Lorong rumah sakit lengang, menyisakan perawat yang menguap dan beberapa keluarga pasien menunggui kerabatnya. Ibu dan Pak Tua masuk ke dalam ruangan gawat darurat, mendengarkan penjelasan dokter. Cik dan Koh bersama nelayan yang pergi melaut bersama Bapak berdiri di ujung lorong, mendesah resah, berbisik.
Aku duduk menjeplak.
Menatap kosong petak keramik putih, dinding putih dan lampu neon. Bau obat-obatan terbang melintasi kisi-kisi. Beberapa perawat dan sepertinya dokter menyusul masuk ke dalam ruang gawat darurat. Tampang mereka bukan kabar baik.
Di depanku tiba-tiba sudah berdiri seorang gadis kecil, seumuranku. Aku tidak peduli, mungkin anggota keluarga pasien lain. Gadis itu menatapku, lamat-lamat. Aku melirik selintas, rambutnya di kepang dua, wajahnya China, matanya redup oleh kesedihan, ia sama cemasnya denganku. Bagian otakku yang biasanya dipenuhi rasa ingin tahu sedang malas bekerja. Aku tetap abai.
Sial, gadis itu malah ikut duduk menjeplak, sambil terus menatapku.
Pernah kalian diperhatikan seperti tontonan yang menarik? Aku belum, baru kali itu. Setengah menit, aku mulai jengkel. Ikut menatapnya, melipat dahi. Tetapi dia tetap memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut, seperti sedang menatap makhluk dari galaksi lain.
Satu menit, aku melotot, “Apa?”
Gadis itu mengangkat bahunya, menggeleng. Lantas kenapa kau sibuk melihatiku? Kurang lebih begitu ekspresi wajah sebalku, terganggu. Gadis kecil itu tidak bersuara. Sebelum aku sempat mengusirnya, Cik Tulani berteriak memanggil, menyuruhku masuk ke ruang gawat darurat.
Aku segera lupa kejadian di lorong rumah sakit. Rasa cemasku berubah menjadi beribu perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Dokter menghela nafas, bilang tidak ada solusinya. Ibu tertunduk mendekap bahuku. Dokter menjelaskan beberapa hal lagi, juga disertai penjelasan Ibu.
Astaga! Bukan kabar tidak ada lagi jalan keluar yang membuatku tiba-tiba sesak. Tetapi kabar, entah apa yang ada di kepala Bapak, sebelum tubuhnya benar-benar berhenti bekerja, dia ternyata menyetujui hal paling gila yang pernah kupikirkan. Tidak jauh dari bangsal gawat darurat itu, terkulai lemah seorang pasien gagal jantung. Berbulan-bulan mencari donor tidak bertemu. Beberapa menit lalu Dokter menjelaskan situasi dengan cepat, Bapak mengangguk lemah, menyetujui.
“Bapak belum mati!” Aku berteriak marah.
“Bapak kau tahu persis apa yang dilakukan, Borno.” Ibu bersimbah air-mata memelukku erat-erat.
“Bapak belum mati! Kenapa dadanya dibelah!” Aku berusaha menyibak tangan Ibu.
“Secara klinis sudah meninggal.” Itu penjelasan singkat dokter beberapa detik setelah melihat garis lurus di mesin, mendesah resah, memerintahkan tim operasi mulai bekerja.
“Bapak belum matiiii! Dia bisa sadar kapan saja.” Aku loncat, berusaha menggedor pintu ruangan operasi, memaksa masuk. Cik Tulani, Koh Acung dan Pak Tua bergegas membantu Ibu menahanku.
“Lepaskan! Bapak belum matiiii!” Aku beringas, berusaha memukul.
Tenaga mereka jauh lebih besar, satu menit, aku terkulai menyerah.
Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit beberapa jam kemudian, terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku, Bapak menunaikan kebaikan terakhir. Kalian tahu, meski bersahaja, Bapak adalah orang terbaik di seluruh Pontianak yang pernah kukenal. Aku tidak tahu, apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal, atau pisau bedah dokter? Dia boleh jadi masih bisa siuman, diselamatkan, bukan? Mukjijat bisa datang kapan saja, bukan?
Umurku dua belas, aku tidak pernah tahu jawabannya.
Novel Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah Tere Liye
Episode 1: ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’
Prolog
Waktu kecil, enam tahun, aku suka memikirkan banyak hal yang aneh, yang boleh jadi menjelaskan tabiatku kelak saat dewasa, salah-satunya aku pernah sibuk memikirkan, jika kita buang air besar di hulu sungai Kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu untuk tiba di muaranya, melintas di depan rumah papan terapung kami?
Aku bertanya pada Bapak, Bapak yang sedang membereskan jaring hanya tergelak, ‘Kau ada-ada saja Borno, urusan kotoran saja kau lamunkan’. Bapak bukannya menjawab, malah mentertawakan. Aku melipat ekspresi rasa ingin tahu, berganti kecewa, lantas bertanya pada Ibu. Ibu yang sedang memilah-milah hasil tangkapan semalam melotot, menyuruhku segera mengantar pesanan ikan tetangga, ‘Borno! Jangan tanya macam-macam, melihat tingkah kau satu macam saja ibu sudah pusing. Sana antar tiga pesanan!’ Sebelum Ibu meneriakiku dua kali, aku bergegas lari membawa tampuk tali bambu yang ikannya kait-mengkait seperti setangkai buah rambai, atau buah anggur (meski aku belum pernah sekalipun lihat buah anggur).
Tiba di rumah Koh Acung, pemilik toko kelontong yang menghadap persis sungai Kapuas, pemesan ikan pertama pagi ini, aku bertanya sambil menjulurkan setampuk ikan segar.
“Koh, berapa panjang Kapuas?”
“Mana aku tahu.” Koh Acung yang lagi sibuk melayani salah dua perahu merapat, nelayan yang berbelanja keperluan rumah setelah pulang melaut, tidak memedulikan.
“Koh pernah ke hulu Kapuas?” Aku mendesak.
“Haiya, kau tidak lihat aku sedang sibuk? Berapa liter tadi gulanya? Satu setengah? Kau jadi ambil karung goni berapa? Tiga? Ahiya, semuanya jadi….” Koh Acung menceracau rincian belanja dan harga, soal berhitung cepat, mencongak, tak ada yang mengalahkan Koh Acung. Kalkulator besar milik pedagang di perempatan kota saja kalah cepat. Terkenal sekali, misalnya kalian bawa selembar kertas belanjaan, jangan yang mudah, bawa saja yang rumit sekalian, misalnya tiga perempat bungkus kopi, satu tujuh perdua liter minyak tanah, enam butir baterei senter, tiga besar, dua kecil, satu sedang, enam per delapan liter gula, satu setengah botol spiritus, dua kotak korek api, sepuluh dua pertiga belas liter beras…. Haiya, tunggu sekejap, dan Koh Acung macam dukun Dayak sakti merapal mantera, menyebut angka tanpa salah. Sekian. Jangan protes dia salah hitung, atau perahu kalian tidak boleh merapat ke toko kelontongnya.
“Ayolah, Koh, bagaimana mungkin Koh tidak tahu.” Mendesak untuk dua hal, satu untuk pertanyaanku, satu lagi untuk setampuk ikan yang tidak dipedulikannya.
“Kau menganggu saja, Borno, bawa sana ikannya ke belakang, jangan ditaruh di atas etalase kaca mahalku.” Koh Acung melotot sambil mereken uang kembalian, mana peduli dua-dua urusanku pagi ini.
Transaksi usai. Beberapa awak nelayan melempar karung belanjaan ke perahu, mereka hitam legam nan kekar, khas nelayan dari pedalaman. Aku bersungut-sungut membawa ikan ke bagian belakang toko kelontong Koh Acung, istrinya sedang sibuk meniup-niup tungku, tertawa senang melihatku membawa ikan segar, menyerahkan uang. Masih sisa dua tampuk, aku harus bergegas.
Tiba di warung makan Cik Tulani, pertanyaan itu tetap memenuhi kepala. Kutanyakan pada Cik Tulani, dia yang sedang berpeluh membuka tutup panci gulainya menyeringai.
“Kau tanya apa tadi, hah?”
“Cik pernah ke hulu kapuas?”
“Belum pernah.”
“Cik tahu di mana hulu kapuas?”
“Tidak tahu.”
“Cik tahu, berapa lama naik kapal ke sana?”
“Hah, kalau kau bertanya soal racikan pindang ikan yang mantap, atau bagaimana membuat jengkol santan yang lezat aku tahu. Mana urusan dengan hulu Kapuas…. Mana ikannya? Ah, alangkah sedikitnya ikan yang kau bawa ini? Mana cukup untuk sehari?”
“Bapak bilang tangkapan lagi dikit-dikitnya, Cik.”
“Ah, macam mana ini, kalau setiap pagi hanya setampuk ini, tidak cukup. Kemarin siang saja warungku kedatangan rombongan turis dari Jakarta. Habis semuanya, rakus mereka makan, sampai kelelahan bersandar kursi, melapas kancing baju, memperlihatkan buncit perut. Kalau selalu dikit seperti ini, lama-lama aku beli ikan ke nelayan yang lalu-lalang depan warungku saja.” Cik mana peduli pertanyaanku, dia sibuk mengoceh protesnya yang setiap kali aku mengantar ikan selalu saja diulang-ulang. ‘Jangan dengarkan,’ itu kata Ibu mengingatkan, ‘Dia selalu mengomel.’ Aku mengangguk, semua orang di sepanjang tepian Kapuas ini juga tahu kalau Cik Tulani memang suka mengomel, pernah aku membawa ikan satu ember besar, sampai tersengal menyeretnya, masih saja dia bilang sedikit, bilang nanti siang ada Gubernur Kalimantan Barat dan rombongan yang hendak makan di warungnya. ‘Ah itu alasannya saja, agar bisa menawar ikan lebih murah. Kalau dia mau, dari dulu dia bisa beli dari nelayan yang sering makan di warungnya.’ Itu penjelasan Bapak, dan aku pikir masuk akal, lihatlah, Cik Tulani butuh bermenit-menit menghitung uang, menyerahkannya padaku, lantas bilang, ‘Kau bilang bapak kau, Borno, besok kalau tetap sedikit ini harganya dipotong seperempat’.
Aku sebal, salah tempat bertanya, bukan dijawab malah diomeli, bergegas membawa tampuk ikan terakhir ke tujuan berikutnya.
Pak Tua itu sedang duduk takjim menunggu. Perahu kayu sederhana ukuran panjang delapan meter, lebar dua meter, dengan tempat duduk melintang, bermesin tempel (yang lebih sering disebut ‘perahu tempel’), berjejer di dermaga kayu. Satu perahu tertambat di tonggak, beberapa penumpang yang hendak menyeberangi Kapuas hati-hati loncat, mengetem sejenak, petugas timer sibuk mengarahkan penumpang, barang lima belas menit, perahu baru tiga perempat penuh, pemilik perahu yang mengantri sudah sibuk menyuruh jalan, yang lain juga butuh penumpang.
“Selamat pagi, Borno.” Pak Tua tersenyum melihatku.
Aku menjawab salamnya, meletakkan tampuk ikan di atas perahu tempelnya.
“Wah, besar-besar.”
“Iya, Pak, tetapi sedikit.”
“Tidak masalah.” Pak Tua melambaikan tangannya ringan, menyerahkan dua lembar uang, “Hanya untuk makanku, dua hari juga tidak akan habis. Terima-kasih, Borno.”
Aku memperhatikan sedikit keributan di dermaga kayu. Kota kami memang kota air, dibelah dua oleh aliran sungai Kapuas yang menuju muaranya di Laut Cina Selatan. Lebar Kapuas tidak kurang dua kali panjang lapangan bola, penduduk kota yang memiliki keperluan di seberang sana-sini, selalu menuju ke dermaga ini (dan beberapa dermaga kayu lainnya), untuk menyeberang. Lebih cepat menumpang perahu tempel. Naik bus, angkot, akan memutar jauh sekali, sudah mahal, tidak praktis pula. Pemerintah tercinta hanya membangun satu jembatan besar jauh menjorok di dalam kota sana agar tidak mengganggu lalu-lalang kapal besar. Pagi seperti ini, dermaga kayu ramai oleh anak sekolah yang menyeberang, pekerja kantoran, orang-orang berbaju rapi. Ada rombongan besar datang, petugas timer perahu tempel berseru-seru menyuruh mereka naik ke perahu yang gilirannya merapat, berisi separuh, rombongan itu menolak, tidak muat, beberapa orang harus naik perahu berikutnya.
“Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Borno.” Pak Tua menyeringai, memutus lamunanku memperhatikan pertengkaran.
Selain memang menyenangkan dan berpengetahuan luas, inilah yang aku suka dengan Pak Tua, dia pandai membaca raut wajah.
“Iya,” aku menggangguk, “Pak Tua pernah ke hulu Kapuas?”
“Sering. Waktu aku masih muda.” Tidak perlu sedetik, Pak Tua sudah menjawab mantap.
Aku bersorak senang.
“Berapa jauh?”
“Jauh sekali, Borno.”
“Berapa panjang?”
“Panjang sekali. Berkelok-kelok, beratus-ratus cabang anak sungai, terus masuk ke pedalaman Kalimantan. Tidak terbayangkan betapa eloknya.”
“Berapa hari perjalanan dengan perahu?” Aku makin antusias.
“Tergantung perahu kau. Dengan mesin tempel tercepat, papan terkuat, buatan tukang terbaik akan lebih cepat. Sebaliknya, kalau hanya perahu macam ini, hanya tinggal papannya saja yang sampai ke sana.” Pak Tua terkekeh menunjuk perahu-perahu tempel kapasitas sepuluh orang di sekitarnya.
Aku menyibak anak rambut yang mengganggu ujung mata, “Anggap saja pakai perahu tercepat. Berapa hari?” Memperbaiki pertanyaan.
“Itu juga tergantung, Borno. Apakah pengemudinya tangguh atau tidak?”
“Apa pentingnya?” Aku menyeringai.
“Tentu saja penting, Borno. Untuk menuju hulu Kapuas, kau harus melintasi rimba lebat, hutan dipenuhi binatang buas, lubuk-lubuk besar dalam, buaya buas, ular raksasa. Belum lagi melewati perkampungan suku Dayak pedalaman. Orang-orang rimba, salah pongah, kau ditombak dari atas pohon besar, atau diteluh macam jadi burung jatuh menggelepar. Kalau hanya seorang nelayan biasa, tidak akan tahan dua hari, sudah terkencing-kencing ingin pulang.”
“Pengemudinya tangguh.” Aku memperbaiki lagi variabel pertanyaan.
“Nah, itu juga tergantung, kau pergi awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun?”
“Itu tidak penting, Pak Tua.” Aku protes tidak sabaran, poin utama pertanyaanku bukan itu, apa pula hubungannya kapan pergi dengan sampai ke sana.
“Tidak penting? Ini penting, karena aliran sungai Kapuas, kebiasaan di sekitarnya mengikuti siklus musim. Setiap musim penghujan, airnya deras dan be-riam. Setiap kemarau, lebih banyak buaya dan binatang buas merapat ke tepian.” Dahi tua Pak Tua menyembul lipatan, berusaha menjelaskan.
Aku mendengus, bergegas menjelaskan muasal kenapa aku bertanya. Aku hanya ingin tahu berapa panjang Kapuas, berapa hari perjalanan, sekadar untuk menghitung butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan kotoran itu tiba di depan rumah. Tidak ada hubungannya dengan semua cerita seram perjalanan menuju hulu Kapuas, tidak ada juga hubungannya dengan banjir, musim penghujan dan sebagainya itu.
“Astaga?” Pak Tua terbahak, menepuk dahinya, menatapku ganjil.
Aku menyeringai, apa salahnya dengan rasa ingin tahuku?
“Kau bertanya hanya ingin tahu soal itu?”
Aku mengangkat bahu.
Petugas timer meneriaki Pak Tua, giliran perahu tempelnya mengisi penumpang. Pak Tua sambil tertawa segera menyalakan mesih motor ber-merk Jepang itu, buih mengebul di permukaan sungai, suara gemeretuk mesin tempel memenuhi langit-langit, “Kau ada-ada saja, Borno. Ini sungai paling besar, paling panjang seluruh Kalimantan, bahkan termasuk salah-satu sungai paling hebat di seluruh dunia. Dan kau hanya bertanya untuk itu? Salam buat Bapak dan Ibu kau, terima-kasih untuk ikannya.”
Aku hanya bisa menatap perahu tempel itu bergerak, kemudian merapat anggun ke dermaga kayu. Sebal mau bilang apalagi. Beberapa penumpang berloncatan, tertib duduk di papan melintang tiga-tiga enam baris, satu menit penuh, dermaga sedang ramai-ramainya. Pak Tua menggerakan mesin tempel, sekejap perahu itu sudah membelah aliran sungai Kapuas, menuju seberang.
Matahari pagi cerah. Langit biru tersaput sedikit awan. Dari tepian Kapuas tempatku berdiri, kota Pontianak terlihat elok. Deretan bangunan dua-tiga tingkat berbaris. Burung walet terbang melenguh, kapal ferry tak kalah penuh penumpang melintas, asap dari pabrik pengolahan karet mentah, mobil, motor, sepeda melintas. Kota ini mulai tenggelam dengan kesibukannya.
Aku bergegas kembali ke rumah. Ah, tetapi dari semua hal aneh yang sibuk kupikirkan sejak kecil, bergudang pertanyaan tentang hal unik, menarik dan ganjil, yang terkadang membuat orang di sekitarku kehabisan kata, sebal, jengkel karena ditanya-tanya, tidak ada yang bisa mengalahkanku memikirkan hal itu, menanyakan tentang itu… apalagi kalau bukan, soal cinta… cinta sejati.
Itu pertanyaan terbesar dalam hidupku.
Prolog
Waktu kecil, enam tahun, aku suka memikirkan banyak hal yang aneh, yang boleh jadi menjelaskan tabiatku kelak saat dewasa, salah-satunya aku pernah sibuk memikirkan, jika kita buang air besar di hulu sungai Kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu untuk tiba di muaranya, melintas di depan rumah papan terapung kami?
Aku bertanya pada Bapak, Bapak yang sedang membereskan jaring hanya tergelak, ‘Kau ada-ada saja Borno, urusan kotoran saja kau lamunkan’. Bapak bukannya menjawab, malah mentertawakan. Aku melipat ekspresi rasa ingin tahu, berganti kecewa, lantas bertanya pada Ibu. Ibu yang sedang memilah-milah hasil tangkapan semalam melotot, menyuruhku segera mengantar pesanan ikan tetangga, ‘Borno! Jangan tanya macam-macam, melihat tingkah kau satu macam saja ibu sudah pusing. Sana antar tiga pesanan!’ Sebelum Ibu meneriakiku dua kali, aku bergegas lari membawa tampuk tali bambu yang ikannya kait-mengkait seperti setangkai buah rambai, atau buah anggur (meski aku belum pernah sekalipun lihat buah anggur).
Tiba di rumah Koh Acung, pemilik toko kelontong yang menghadap persis sungai Kapuas, pemesan ikan pertama pagi ini, aku bertanya sambil menjulurkan setampuk ikan segar.
“Koh, berapa panjang Kapuas?”
“Mana aku tahu.” Koh Acung yang lagi sibuk melayani salah dua perahu merapat, nelayan yang berbelanja keperluan rumah setelah pulang melaut, tidak memedulikan.
“Koh pernah ke hulu Kapuas?” Aku mendesak.
“Haiya, kau tidak lihat aku sedang sibuk? Berapa liter tadi gulanya? Satu setengah? Kau jadi ambil karung goni berapa? Tiga? Ahiya, semuanya jadi….” Koh Acung menceracau rincian belanja dan harga, soal berhitung cepat, mencongak, tak ada yang mengalahkan Koh Acung. Kalkulator besar milik pedagang di perempatan kota saja kalah cepat. Terkenal sekali, misalnya kalian bawa selembar kertas belanjaan, jangan yang mudah, bawa saja yang rumit sekalian, misalnya tiga perempat bungkus kopi, satu tujuh perdua liter minyak tanah, enam butir baterei senter, tiga besar, dua kecil, satu sedang, enam per delapan liter gula, satu setengah botol spiritus, dua kotak korek api, sepuluh dua pertiga belas liter beras…. Haiya, tunggu sekejap, dan Koh Acung macam dukun Dayak sakti merapal mantera, menyebut angka tanpa salah. Sekian. Jangan protes dia salah hitung, atau perahu kalian tidak boleh merapat ke toko kelontongnya.
“Ayolah, Koh, bagaimana mungkin Koh tidak tahu.” Mendesak untuk dua hal, satu untuk pertanyaanku, satu lagi untuk setampuk ikan yang tidak dipedulikannya.
“Kau menganggu saja, Borno, bawa sana ikannya ke belakang, jangan ditaruh di atas etalase kaca mahalku.” Koh Acung melotot sambil mereken uang kembalian, mana peduli dua-dua urusanku pagi ini.
Transaksi usai. Beberapa awak nelayan melempar karung belanjaan ke perahu, mereka hitam legam nan kekar, khas nelayan dari pedalaman. Aku bersungut-sungut membawa ikan ke bagian belakang toko kelontong Koh Acung, istrinya sedang sibuk meniup-niup tungku, tertawa senang melihatku membawa ikan segar, menyerahkan uang. Masih sisa dua tampuk, aku harus bergegas.
Tiba di warung makan Cik Tulani, pertanyaan itu tetap memenuhi kepala. Kutanyakan pada Cik Tulani, dia yang sedang berpeluh membuka tutup panci gulainya menyeringai.
“Kau tanya apa tadi, hah?”
“Cik pernah ke hulu kapuas?”
“Belum pernah.”
“Cik tahu di mana hulu kapuas?”
“Tidak tahu.”
“Cik tahu, berapa lama naik kapal ke sana?”
“Hah, kalau kau bertanya soal racikan pindang ikan yang mantap, atau bagaimana membuat jengkol santan yang lezat aku tahu. Mana urusan dengan hulu Kapuas…. Mana ikannya? Ah, alangkah sedikitnya ikan yang kau bawa ini? Mana cukup untuk sehari?”
“Bapak bilang tangkapan lagi dikit-dikitnya, Cik.”
“Ah, macam mana ini, kalau setiap pagi hanya setampuk ini, tidak cukup. Kemarin siang saja warungku kedatangan rombongan turis dari Jakarta. Habis semuanya, rakus mereka makan, sampai kelelahan bersandar kursi, melapas kancing baju, memperlihatkan buncit perut. Kalau selalu dikit seperti ini, lama-lama aku beli ikan ke nelayan yang lalu-lalang depan warungku saja.” Cik mana peduli pertanyaanku, dia sibuk mengoceh protesnya yang setiap kali aku mengantar ikan selalu saja diulang-ulang. ‘Jangan dengarkan,’ itu kata Ibu mengingatkan, ‘Dia selalu mengomel.’ Aku mengangguk, semua orang di sepanjang tepian Kapuas ini juga tahu kalau Cik Tulani memang suka mengomel, pernah aku membawa ikan satu ember besar, sampai tersengal menyeretnya, masih saja dia bilang sedikit, bilang nanti siang ada Gubernur Kalimantan Barat dan rombongan yang hendak makan di warungnya. ‘Ah itu alasannya saja, agar bisa menawar ikan lebih murah. Kalau dia mau, dari dulu dia bisa beli dari nelayan yang sering makan di warungnya.’ Itu penjelasan Bapak, dan aku pikir masuk akal, lihatlah, Cik Tulani butuh bermenit-menit menghitung uang, menyerahkannya padaku, lantas bilang, ‘Kau bilang bapak kau, Borno, besok kalau tetap sedikit ini harganya dipotong seperempat’.
Aku sebal, salah tempat bertanya, bukan dijawab malah diomeli, bergegas membawa tampuk ikan terakhir ke tujuan berikutnya.
Pak Tua itu sedang duduk takjim menunggu. Perahu kayu sederhana ukuran panjang delapan meter, lebar dua meter, dengan tempat duduk melintang, bermesin tempel (yang lebih sering disebut ‘perahu tempel’), berjejer di dermaga kayu. Satu perahu tertambat di tonggak, beberapa penumpang yang hendak menyeberangi Kapuas hati-hati loncat, mengetem sejenak, petugas timer sibuk mengarahkan penumpang, barang lima belas menit, perahu baru tiga perempat penuh, pemilik perahu yang mengantri sudah sibuk menyuruh jalan, yang lain juga butuh penumpang.
“Selamat pagi, Borno.” Pak Tua tersenyum melihatku.
Aku menjawab salamnya, meletakkan tampuk ikan di atas perahu tempelnya.
“Wah, besar-besar.”
“Iya, Pak, tetapi sedikit.”
“Tidak masalah.” Pak Tua melambaikan tangannya ringan, menyerahkan dua lembar uang, “Hanya untuk makanku, dua hari juga tidak akan habis. Terima-kasih, Borno.”
Aku memperhatikan sedikit keributan di dermaga kayu. Kota kami memang kota air, dibelah dua oleh aliran sungai Kapuas yang menuju muaranya di Laut Cina Selatan. Lebar Kapuas tidak kurang dua kali panjang lapangan bola, penduduk kota yang memiliki keperluan di seberang sana-sini, selalu menuju ke dermaga ini (dan beberapa dermaga kayu lainnya), untuk menyeberang. Lebih cepat menumpang perahu tempel. Naik bus, angkot, akan memutar jauh sekali, sudah mahal, tidak praktis pula. Pemerintah tercinta hanya membangun satu jembatan besar jauh menjorok di dalam kota sana agar tidak mengganggu lalu-lalang kapal besar. Pagi seperti ini, dermaga kayu ramai oleh anak sekolah yang menyeberang, pekerja kantoran, orang-orang berbaju rapi. Ada rombongan besar datang, petugas timer perahu tempel berseru-seru menyuruh mereka naik ke perahu yang gilirannya merapat, berisi separuh, rombongan itu menolak, tidak muat, beberapa orang harus naik perahu berikutnya.
“Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Borno.” Pak Tua menyeringai, memutus lamunanku memperhatikan pertengkaran.
Selain memang menyenangkan dan berpengetahuan luas, inilah yang aku suka dengan Pak Tua, dia pandai membaca raut wajah.
“Iya,” aku menggangguk, “Pak Tua pernah ke hulu Kapuas?”
“Sering. Waktu aku masih muda.” Tidak perlu sedetik, Pak Tua sudah menjawab mantap.
Aku bersorak senang.
“Berapa jauh?”
“Jauh sekali, Borno.”
“Berapa panjang?”
“Panjang sekali. Berkelok-kelok, beratus-ratus cabang anak sungai, terus masuk ke pedalaman Kalimantan. Tidak terbayangkan betapa eloknya.”
“Berapa hari perjalanan dengan perahu?” Aku makin antusias.
“Tergantung perahu kau. Dengan mesin tempel tercepat, papan terkuat, buatan tukang terbaik akan lebih cepat. Sebaliknya, kalau hanya perahu macam ini, hanya tinggal papannya saja yang sampai ke sana.” Pak Tua terkekeh menunjuk perahu-perahu tempel kapasitas sepuluh orang di sekitarnya.
Aku menyibak anak rambut yang mengganggu ujung mata, “Anggap saja pakai perahu tercepat. Berapa hari?” Memperbaiki pertanyaan.
“Itu juga tergantung, Borno. Apakah pengemudinya tangguh atau tidak?”
“Apa pentingnya?” Aku menyeringai.
“Tentu saja penting, Borno. Untuk menuju hulu Kapuas, kau harus melintasi rimba lebat, hutan dipenuhi binatang buas, lubuk-lubuk besar dalam, buaya buas, ular raksasa. Belum lagi melewati perkampungan suku Dayak pedalaman. Orang-orang rimba, salah pongah, kau ditombak dari atas pohon besar, atau diteluh macam jadi burung jatuh menggelepar. Kalau hanya seorang nelayan biasa, tidak akan tahan dua hari, sudah terkencing-kencing ingin pulang.”
“Pengemudinya tangguh.” Aku memperbaiki lagi variabel pertanyaan.
“Nah, itu juga tergantung, kau pergi awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun?”
“Itu tidak penting, Pak Tua.” Aku protes tidak sabaran, poin utama pertanyaanku bukan itu, apa pula hubungannya kapan pergi dengan sampai ke sana.
“Tidak penting? Ini penting, karena aliran sungai Kapuas, kebiasaan di sekitarnya mengikuti siklus musim. Setiap musim penghujan, airnya deras dan be-riam. Setiap kemarau, lebih banyak buaya dan binatang buas merapat ke tepian.” Dahi tua Pak Tua menyembul lipatan, berusaha menjelaskan.
Aku mendengus, bergegas menjelaskan muasal kenapa aku bertanya. Aku hanya ingin tahu berapa panjang Kapuas, berapa hari perjalanan, sekadar untuk menghitung butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan kotoran itu tiba di depan rumah. Tidak ada hubungannya dengan semua cerita seram perjalanan menuju hulu Kapuas, tidak ada juga hubungannya dengan banjir, musim penghujan dan sebagainya itu.
“Astaga?” Pak Tua terbahak, menepuk dahinya, menatapku ganjil.
Aku menyeringai, apa salahnya dengan rasa ingin tahuku?
“Kau bertanya hanya ingin tahu soal itu?”
Aku mengangkat bahu.
Petugas timer meneriaki Pak Tua, giliran perahu tempelnya mengisi penumpang. Pak Tua sambil tertawa segera menyalakan mesih motor ber-merk Jepang itu, buih mengebul di permukaan sungai, suara gemeretuk mesin tempel memenuhi langit-langit, “Kau ada-ada saja, Borno. Ini sungai paling besar, paling panjang seluruh Kalimantan, bahkan termasuk salah-satu sungai paling hebat di seluruh dunia. Dan kau hanya bertanya untuk itu? Salam buat Bapak dan Ibu kau, terima-kasih untuk ikannya.”
Aku hanya bisa menatap perahu tempel itu bergerak, kemudian merapat anggun ke dermaga kayu. Sebal mau bilang apalagi. Beberapa penumpang berloncatan, tertib duduk di papan melintang tiga-tiga enam baris, satu menit penuh, dermaga sedang ramai-ramainya. Pak Tua menggerakan mesin tempel, sekejap perahu itu sudah membelah aliran sungai Kapuas, menuju seberang.
Matahari pagi cerah. Langit biru tersaput sedikit awan. Dari tepian Kapuas tempatku berdiri, kota Pontianak terlihat elok. Deretan bangunan dua-tiga tingkat berbaris. Burung walet terbang melenguh, kapal ferry tak kalah penuh penumpang melintas, asap dari pabrik pengolahan karet mentah, mobil, motor, sepeda melintas. Kota ini mulai tenggelam dengan kesibukannya.
Aku bergegas kembali ke rumah. Ah, tetapi dari semua hal aneh yang sibuk kupikirkan sejak kecil, bergudang pertanyaan tentang hal unik, menarik dan ganjil, yang terkadang membuat orang di sekitarku kehabisan kata, sebal, jengkel karena ditanya-tanya, tidak ada yang bisa mengalahkanku memikirkan hal itu, menanyakan tentang itu… apalagi kalau bukan, soal cinta… cinta sejati.
Itu pertanyaan terbesar dalam hidupku.
Sabtu, 10 Oktober 2015
About me
Halo.. namaku Tusy Setiawati. biasa dipanggil Tusy. Biasanya
kalo ada orang yang baru mengenal dan mendengar namaku pasti tertawa, katanya
sih unik. hm... :D . Oya, aku lahir di Kulon Progo tanggal 28 Agustus 1997 .
Aku 100 % asli Kulon Progo, tepatnya RT 24 RW 12 Pedukuhan 7 Kranggan Tengah,
Kranggan, Galur, Kulon Progo. Iya, aku tinggal di desa tepatnya pesisir :D
Mengenai diskripsi tentang diriku, aku orangnya tinggi, item
hahaha sawo matang deng wkwk :D yang jelas ngga putih lah :p , aku orangnya
biasa aja ngga cantik juga, tapi orang bilang aku manis hahaha :D , oyaa aku
gendud katanya pffft -_- menurutku sih engga yaa.. ideal kok :D . aku orangnya
friendly, baik, tidak sombong, suka menabung hahaha *becanda* . Yaa pokoknya
gitu deh, kalo mau lebih tau tentang aku mending ketemu langsung sama orangnya,
sulit kalo dideskripsikan :D . Oke?
Hobi? hm.. Aku ngga punya hobi yang khusus -_- pokoknya aku
suka nonton film, film apapun itu, dan drama korea hahaha :D iya aku K-Popers
wkwkw dulu sempet suka banget sama boyband korea, tapi sekarang udah engga kok,
:D . Kalo tentang dramkor jangan ditanya aku udah nonton dramkor banyak banget,
To the Beautiful You, Hearstring, King Two Heart, The Heirs, Who Are You, Man
from The Star, You're Surrounded, Docter Stranger, Emergency Couple, School
2013, Pinnochio, Healer, I Hear Your Voice, Blood, Nice Guy, It's Okey That's
Love, Master Sun, dll. Lupa yang lainnyaa saking banyaknyaa hahaha. Selain
nonton film aku juga suka jalan-jalan, kemana aja ngga harus yang jauh-jauh
yang penting bisa menghilangkan penat. Suka bersepeda juga. Emm.. apa lagi
yaaa. Udah segitu dulu, kalo pengen tau tentang aku langsung kenalan aja sama
orangnya, orangnya asik kok, enakan diajak ngobrol :D , silahkan add aja
Facebook "Tusy" Twitter @tusysz__ Email tusy.setiawati@yahoo.com .
Sekian. Terimakasih. Thank You. Matur Nuwun. Gumawo.
Senin, 05 Oktober 2015
Lima Pertanyaan Besar
Pada novel Rindu karya Tere Liye yang akan saya sampaikan pada kesempatan kali ini adalah mengenai 5 pertanyaan besar. Pertanyaan besar ini dibawa oleh Kapal Blitar Holland menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.
1. Pertanyaan pertama, adalah dari seorang mantan pelacur yang menjadi guru TPA dan hendak menunaikan ibadah haji. Dia bertanya, "Apakah aku ini pantas menjadi guru TPA bagi anak-anak? Bagaimana jika mereka tahu? Apakah aku ini pantas menginjakkan kaki ke tanah suci? Apakah Allah akan menerimaku?" . Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah satu, kita tidak bisa lari dari masalalu, buat apa kita lari? melawan? melupakan masa lalu? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Cara terbaik untuk menghadapi masalalu adalah dengan dihadapi, peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidup kita.
Mengenai penilaian orang lain, kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Kalaupun orang lain menganggap kita apa pun itu, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita sebaik itu atau tidak.
1. Pertanyaan pertama, adalah dari seorang mantan pelacur yang menjadi guru TPA dan hendak menunaikan ibadah haji. Dia bertanya, "Apakah aku ini pantas menjadi guru TPA bagi anak-anak? Bagaimana jika mereka tahu? Apakah aku ini pantas menginjakkan kaki ke tanah suci? Apakah Allah akan menerimaku?" . Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah satu, kita tidak bisa lari dari masalalu, buat apa kita lari? melawan? melupakan masa lalu? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Cara terbaik untuk menghadapi masalalu adalah dengan dihadapi, peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidup kita.
Mengenai penilaian orang lain, kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Kalaupun orang lain menganggap kita apa pun itu, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita sebaik itu atau tidak.
2. Pertanyaan kedua adalah dari seorang kakek
yang ditinggal mati oleh istrinya. Pertanyaannya ialah “Kenapa mbah putri harus
meninggal sekarang? Kenapa tidak besok, atau lusa?” . Jawabannya adalah yang
tahu alasannya hanya Allah, yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut
Allah. Kematian mbah putri adalah takdir Allah yang terbaik. Biarkan waktu yang
menghapus kesedihan itu, dan coba lihatlah kejadian tersebut dengan kaca mata
yang berbeda atau sisi yang berbeda.
3. Pertanyaan ketiga adalah dari seorang anak
yang sangat membenci ayah kandungnya sendiri, karena dari waktu keci dia
melihat ayahnya memukuli, mencaci maki, menendang ibunya dan kasar terhadap
tetangga. Dia bertanya “Kenapa Ibu masih bertahan dan bersabar dengan sikap dan
sifat Ayah? Kenapa ibu tidak pergi saja? Apakah ibu tidak kesakitan? ”
Jawabannya adalah ibu tersebut setia, karena sejak awal dia sudah memutuskan
untuk menikah dengan sang ayah jadi apapun yang terjadi dia adalah istri dari
suaminya.
4. Pertanyaan keempat adalah dari seorang pemuda
yang kecewa, sakit hati setelah menerima surat dari seorang wanita yang dia
cintai bahwa wanita tersebut sudah di jodohkan oleh ayahnya. Pemuda tersebut
sangat kesal, menerima surat tersebut hatinya hancur. Dia bertanya “Apakah cinta
sejati itu? Apakah besok atau lusa aku akan berjodoh wanita itu? Apakah aku
masih memiliki kesempatan?” Jawabannya adalah cinta sejati adalah melepaskan.
Jikalau memang berjodoh pasti suatu saat nanti bisa dipertemukan kembali.
Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki maka sebesar
apapun wujud kehilangan kau akan siap menghadapinya.
5. Pertanyaan kelima adalah dari seorang ulama besar yang tidak yakin akan dirinya "Apakah aku sehebat apa yang dikatakan oleh orang-orang? apakah aku benar-benar baik?" Jawabannya adalah di saat dia melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang banyak seperti dirinya akan tetapi pemuda itu mampu menunjukan kepada semua orang tentang keberaniannya
Nah, itulah sekilas mengenai isi Novel Rindu Tere Liye, karya-karya Tere Liye bagus-bagus, cerita yang di ambil sesuai pada realitas
Langganan:
Komentar (Atom)